Kamis, 28 Agustus 2014

Memaknai Tilawah Kita Selama Ini

Bukan hanya sekedar kholas 
Atau selesai tilawah 10 lembar

BUKAN SEKEDAR ITU...

Saat diri gak yakin bisa tilawah 1 juz sehari di tengah kesibukqn yang padat, dan ternyata bisa...
Ada rasa aneh dalam diri..

Saat mata melirik terjemahan salah satu ayat...dan muka ini memerah..karena seakan ayat itu menyindir kita...

Apa rasa di hatimu ketika mengawali hari dg menyesaikan 1 juz? 

Pastinya bisa pules tidur dg senyum-senyum karena ada rasa bahagia bisa kholas 

Tidakkah terpikir jika lantunan tilawah kita yang gak seberapa bagus dan entah tepat atau tidak tajwidnya, ternyata membuka lebar Barokah-Nya...menerangi kubur kita kelak..

Membuat damai hati yg ada di dalam rumah... membuat rumah terasa nyaman..

Bagaimana seandainya suami atau istrimu merasa kembali jatuh cinta karena hatinya tergetar saat lantunan ayat- ayat suci keluar dari mulutmu...

Apa jadinya jika anak-anakmu tiap hari mendengar ayah dan ibunya bertilawah...melantunkan ayat-ayat Allah..

Bahkan tidak terpikir kalau huruf demi huruf dihitung Allah sebagai point yang tak satu pun terlewat untuk dicatat...

Ini Bukan sekedar Kholas, tapi lebiiih dari itu...
Ini tentang kehidupan
kini dan nanti..
Dunia dan akhirat..
Cintai Qur'an..! maka akan datang cinta sejati.
QUR'AN DI HATIM

copas #ODOJ523 keep istiqomah Ukhti fillah, aku tau jalan ini memang terjal dan berbatu tapi aku tau kalian sanggup melewatinya

Selasa, 12 Agustus 2014

Reshare : Perlunya Ilmu (kisah penebang kayu)

Kisah Si Penebang Pohon

Alkisah, seorangpedagang kayu menerima lamaran seorang pekerjauntuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerjayang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerjasebaik mungkin.

Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.

Hari pertamabekerja, diaberhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu”.

Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga,dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku,bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?” “Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu, saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga”. Kata si penebang.

“Nah, disinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisamenebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenagayang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal.

Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih,si penebang berlalu dari hadapan majikannyauntuk mulai mengasah kapak.

Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual.Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru !

Jumat, 08 Agustus 2014

Ramadhan bukan Akhir Perjalan

Ramadhan bukan akhir dari perjalanan kita.
Kemana perginya komitmen kita, kemana perginya semangat kita
Ramadhan begitu berlari-lari tanpa kenal lelah namun kenapa sekarang bel berlari pun sepertinya lelah selalu membayangi.

Ramadhan bukan akhir dari perjalanan kita.
Klo berakhirnya Ramadhan diganti dengan bulan syawal, yaitu iedul fitri seharusnya kita tetap dalam fitrah kita sebagai muslim.
Apa sajakah janji yang telah kita buat sebagai seorang muslim?

Ramadhan bukan akhir dari perjalanan kita.
Apa yang kita harapkan sesungguhnya dari Ramadhan? Sekedar penghargaan karena aku lebih dari dia atau apa..

entahlah aku tak mengerti, yang ku mengerti saat ini aku sedang kecewa dengan sekitar dan diriku
begitu cepatnya semangat ini datang dan pergi

memang yang ku tau semangat itu fluktuatif (naik turun), agar kita semakin mendekatkan diri kepada Allah, agar kita tidak sombong riya ujub dengan setiap apa yang kita lakukan, agar kita selalu sadar bahwa ada yang Maha segalanya. bukan bukan kita pastinya hanya Allah pemilik semesta

Semangat dengan 11 bulan berikutnya #afterRamadhan semoga tetap istiqomah dengan keIslamanmu, semoga semakin bermanfaat bagi orang lain, apabila terjadi keFuturan dalam diri semoga tidak terlalu jauh.. Ya Allah aku berlindung padaMu dari rasa sombong, malas, kikir, hasud, hasad, ingin dipuji... aamiin