Jumat, 28 November 2014

Repost. Jangan Menunggu Ia Tiada

Cahyadi Takariawan
Jangan Menunggu Ia Tiada

Ingat kisah film Ainun & Habibie? Sangat mendalam kebersamaan Habibie dengan Ainun. Rasa cinta Habibie terhadap sang isteri sedemikian besar, hingga ia merasakan kekosongan dalam relung jiwanya saat sang istri tiada.

Konon, kira-kira dua pekan setelah kematian Ainun, suatu hari Habibie memakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir, sambil memanggil “Ainun... Ainun…” Ia mencari Ainun di setiap sudut rumah.

Ainun adalah perempuan istimewa di mata Habibie. Ia menepati janji untuk selalu mendampingi Habibie sampai akhir hidupnya, di kala susah maupun senang. Bahkan pada detik-detik terakhir menjelang kepergiannya, ia tetap memikirkan Habibie.

“Saya tidak bisa, saya tidak bisa berjanji akan menjadi istri yang sempurna untukmu. Tapi saya akan selalu mendampingimu, saya janji itu.”

Itu janji Ainun ketika dilamar oleh Habibie. Dan ia membuktikannya. Setia mendampingi Habibie sampai akhir hayatnya.

Ada lagi kisah cinta seorang ulama besar di Indonesia, Buya Hamka. Putra beliau, Irfan Hamka, menuturkan kondisi Buya sepeninggal istrinya.

“Setelah aku perhatikan bagaimana Ayah mengatasi duka lara sepeninggal Ummi, baru aku mulai bisa menyimak. Bila sedang sendiri, Ayah selalu kudengar bersenandung dengan suara yang hampir tidak terdengar. Menyenandungkan ‘kaba’. Jika tidak Ayah menghabiskan 5 - 6 jam hanya untuk membaca Al Qur-an".

Demikian kuat Ayah membaca Al Qur-an, suatu kali pernah aku tanyakan:

“Ayah, kuat sekali Ayah membaca Al Qur-an?” tanyaku kepada ayah.

“Kau tahu, Irfan. Ayah dan Ummi telah berpuluh-puluh tahun lamanya hidup bersama. Tidak mudah bagi Ayah melupakan kebaikan Ummi. Itulah sebabnya bila datang ingatan Ayah terhadap Ummi, Ayah mengenangnya dengan bersenandung. Namun, bila ingatan Ayah kepada Ummi itu muncul begitu kuat, Ayah lalu segera mengambil air wudhu. Ayah shalat Taubat dua rakaat. Kemudian Ayah mengaji. Ayah berupaya mengalihkannya dan memusatkan pikiran dan kecintaan Ayah semata-mata kepada Allah,” jawab Ayah.

“Mengapa Ayah sampai harus melakukan shalat Taubat?” tanyaku lagi.

“Ayah takut, kecintaan Ayah kepada Ummi melebihi kecintaan Ayah kepada Allah. Itulah mengapa Ayah shalat Taubat terlebih dahulu,” jawab Ayah.

***********

Luar biasa kisah kasih Habibie dan Buya Hamka. Dua tokoh legendaris di Indonesia. Kita harus bisa mengambil hikmahnya.

Mereka berdua memberikan inspirasi keindahan sebuah keluarga. Kisah kasih yang dirajut dengan sangat mesra sampai akhir hayat.

Bagaimana dengan kita?

Sahabat, mumpung Allah masih berikan kesempatan kepada kita untuk bersama pasangan tercinta, berikan hal terbaik untuknya selagi kita bisa.

Jangan menunggu ia tiada mendahului kita dan kita baru menyesal belum melakukan hal terbaik untuknya.

Bahkan ada suami yang belum sempat menyatakan perasaan cinta kepada istrinya sampai sang istri meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan. Ia menyesal selama duapuluh tahun hidup bersama belum pernah menyatakan cinta kepada istrinya.

Ya. Jangan menunggu berita buruk baru kita merasa menyesal belum berbuat yang terbaik untuk pasangan kita.

Repost. Sebaik Catatan Nasihat

#HikmahPagi

Sebait catatan nasihat
(Alm) Ustadz Rahmat Abdullah

Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah

Setiap kita akan senantiasa diuji oleh Allah SWT pada titik-titik kelemahan kita.

Orang yang lemah dalam urusan uang namun kuat terhadap fitnah jabatan dan wanita
tidak akan pernah diuji dengan wanita atau jabatan.

Tetapi orang yang lemah dalam urusan wanita namun kuat dalam urusan uang
tidak akan pernah diuji dengan masalah keuangan.

Orang yang mudah tersinggung dan gampang marah akan senantiasa dipertemukan oleh Allah dengan orang yang akan membuatnya tersinggung dan marah sampai ia
bisa memperbaiki titik kelemahannya itu sehingga menjadi tidak mudah tersinggung dan tidak pemarah.

Orang yang selalu berlambat-lambat menghadiri pertemuan forum dakwah karena alasan istri, anak, mertua, atau tamu akan senantiasa dipertemukan dengan perkara ‘mertua datang,
tamu datang silih berganti’ di saat ia akan berangkat .. terus begitu sampai ia memilih prioritas bagi aktivitasnya apakah kepada dakwah atau kepada perkara-perkara lain.

Kita semua harus memahami dan mengatasi segala kelemahan diri di jalan dakwah ini. Ingatlah, mushaf Al-Quran tidak akan pernah terbang sendiri kemudian datang dan
memukuli orang-orang yang bermaksiat.

Sungguh teramat merugi...mereka yang mengikuti hawa nafsu kemudian pergi meninggalkan kebersamaan dlm dakwah ilallah, tanpa mau bersabar sebentar dalam ujian keimanan. Tanpa mau mencoba bertahan sebentar dalam dekapan ukhuwah..​
Dan sungguh, Kecewa itu biasa dan manusiawi' yang luar biasa, siapa saja yang mampu beristighfar dan lalu berlapang dada serta bertawakkal pada-Nya.​ ​
Memang...​ ​ Dakwah ini berat...karenanya ia hanya mampu dipikul oleh mereka yang memiliki hati sekuat baja..
memiliki kesabaran lebih panjang dari usianya.
Memiliki kekuatan yang berlipat.
Memiliki keihklasan dalam beramal yang meninggi.
Memiliki ketabahan seluas lautan, memiliki keyakinan sekokoh pegunungan....semoga bermanfaat..

Repost, Kesederhanaan Umar bin Abdul Aziz

Kesederhanaan Umar bin Abdul Aziz

Fatimah sangat terkejut ketika mendengar berita bahwa telah diangkat khalifah baru, Umar bin Abdul Azis yang tak lain adalah suaminya sendiri. Namun ia lebih terkejut ketika tahu kalau Sang Raja baru dikabarkan menolak segala fasilitas istana.

Umar bin Abdul Aziz memilih menunggang keledai untuk kendaraan sehari-hari, membatalkan acara pelantikan dirinya sebagai khalifah yang akan diadakan besar-besaran dan penuh kemewahan.

Sungguh Fatimah heran dan tidak percaya mendengar berita tersebut karena ia sangat mengenal siapa suaminya. Sosok yang sangat identik dengan kemewahan hidup mengapa secara tiba-tiba ia hendak berpaling dari kemewahan, padahal tampuk kekuasaan kaum muslimin baru saja di anugerahkan kepadanya?

Keterkejutannya semakin bertambah tatkala melihat suaminya pulang dari dari kota Damaskus, tempat ia dilantik sebagai khalifah umat islam. Suaminya terlihat lebih tua tiga tahun dibandungkan tiga hari yang lalu tatkala ia berangkat ke kota Damaskus. Wajahnya terlihat sangat letih, tubuhnya gemetaran dan layu karena menanggung beban yang teramat berat.

Dengan suara lirih Umar bin Abdul Aziz berkata dengan lembut dan penuh kasih-sayang kepada sang isteri tercinta, "Fatimah, isteriku...! Bukankah engkau telah tahu apa yang menimpaku? Beban yang teramat dipikulkan kepundakku, menjadi nakhoda bahtera yang dipenuhi, ditumpangi oleh umat Muhammad SAW. Tugas ini benar-benar menyita waktuku hingga hakku  terhadapmu akan terabaikan. Aku khawatir kelak engkau akan meninggalkanku apabila aku akan menjalani hidupku yang baru, padahal aku tidak ingin berpisah denganmu hingga ajal menjemputku."

"Lalu, apa yang akan engkau lakukan sekarang?" tanya Fatimah.

"Fatimah...! engkau tahu bukan, bahwa semua harta, fasilitas yang ada ditangan kita berasal dari umat Islam, aku ingin mengembalikan harta tersebut ke baitul mal, tanpa tersisa sedikitpun kecuali sebidang tanah yang kubeli dari hasil gajiku sebagai pegawai, disebidang tanah itu kelak akan kita bangun tempat berteduh kita dan aku hidup dari sebidang tanah tersebut. Maka jika engkau tidak sanggup dan tidak sabar terhadap rencana perjalanan hidupku yang akan penuh kekurangan dan penderitaan maka berterus-teranglah, dan sebaiknya engkau kembali ke orang tuamu!" jawab Umar bin Abdul Aziz.

Fatimah kembali bertanya,"Ya suamiku...apa yang sebenarnya membuat engkau berubah sedemikian rupa?"

"Aku memiliki jiwa yang tidak pernah puas, setiap yang kuinginkan selalu dapat kucapai, tetapi aku menginginkan sesuatu yang lebih baik lagi yang tidak ternilai dengan apapun juga yakni surga, surga adalah impian terakhirku," jawab Umar bin Abdul Aziz lagi.

Aneh. Fatimah yang notabene merupakan wanita yang terbiasa hidup mewah, dengan fasilitas yang disediakan dan pelayanan yang super maksimal, tidak kecewa mendengar keputusan suaminya ia. Ia tidak menunjukan kekesalan dan keputus asaan. Justeru dengan suara yang tegar, mantap ia menegaskan, "Suamiku...! Lakukanlah yang menjadi keinginanmu dan aku akan setia disisimu baik dikala susah atau senang hinga maut memisahkan kita."

Fatimah merupakan satu-satunya anak perempuan dari lima bersaudara putra khalifah daulah Abbasyiah yang bernama Abdul Malik bin Marwan. Layaknya putri raja, fatimah pun mendapatkan kehormatan dan segala fasilitas yang mewah, hidup dengan penuh kasih sayang dan dimanja oleh kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya. Kebahagiannya menjadi sempurna dengan dipersunting oleh seorang lelaki yang terbaik pada zamannya, dari keluarga yang terhormat yang bernama Umar bin Abdul Aziz, yang hidup penuh dengan keglamoran dan kemewahan meskipun demikian ia merupakan sosok yang relegius dan sangat amanah.

Fatimah yang agung itu menjadi pendukung pertama gerakan perubahan yang akan dilakukan oleh suaminya yakni gerakan kesederhanan para pemimpin dalam kehidupan, demi bakti dan keridaan sang suami yang tercinta. Ia rela meninggalkan kemewahan hidup yang selama ini dinikmatinya, semuanya dilakukan dengan penuh kesadaran, keikhlasan atas pondasi keimanan yang kuat.

Di rumahnya yang baru, Fatimah hidup dengan penuh kesederhanaan. Pakaian yang dikenakan, makanan yang disantap tanpa ada kemewahan dan kelezatan semuanya tidak jauh dengan rakyat biasa padahal status yang mereka sandang adalah raja dan ratu seluruh umat Islam masa itu.

Begitu sederhananya konsep kehidupan yang mereka terapkan, orang yang belum mengenal tidak menyangka bahwa mereka adalah pasangan penguasa umat islam kala itu. Diceritakan, suatu hari datanglah wanita Mesir untuk menemui khalifah di rumahnya. Sesampai di rumah yang ditunjukkan, ia melihat seorang wanita yang cantik dengan pakaian yang sederhana sedang memperhatikan seseorang yang sedang memperbaiki pagar rumah yang  dalam kondisi rusak.

Setelah berkenalan si wanita Mesir baru sadar bahwa wanita tersebut adalah Fatimah, isteri sang Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz. Tamu itu pun menanyakan sesuatu hal, "Ya Sayyidati..., mengapa engkau tidak menutup auratmu dari orang yang sedang memperbaiki pagar rumah engkau?" Seraya tersenyum Fatimah menjawab, "Dia adalah amirul mukminin Umar bin Abdul Aziz yang sedang engkau cari.

Repost. Harga BBM Naik, Jangan Panik

HARGA BBM NAIK ... JANGAN PANIK ::
Disebutkan dalam riwayat bahwa di zaman sahabat
pernah terjadi kenaikan harga. Mereka pun mendatangi
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyampaikan
masalahnya. Mereka mengatakan,
ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻏﻼ ﺍﻟﺴﻌﺮ ﻓﺴﻌﺮ ﻟﻨﺎ
“Wahai Rasulullah, harga-harga barang banyak yang naik,
maka tetapkan keputusan yang mengatur harga barang.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻫﻮ ﺍﻟﻤﺴﻌﺮ ﺍﻟﻘﺎﺑﺾ ﺍﻟﺒﺎﺳﻂ ﺍﻟﺮﺍﺯﻕ ﻭﺇﻧﻲ ﻵﺭﺟﻮ ﺃﻥ ﺃﻟﻘﻰ
ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻟﻴﺲ ﺃﺣﺪ ﻣﻨﻜﻢ ﻳﻄﻠﺒﻨﻲ ﺑﻤﻈﻠﻤﺔ ﻓﻲ ﺩﻡ ﺃﻭ ﻣﺎﻝ
“Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang menetapkan
harga, yang menyempitkan dan melapangkan rezeki,
Sang Pemberi rezeki. Sementara aku berharap bisa
berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada seorang
pun dari kalian yang menuntutku disebabkan kezalimanku
dalam urusan darah maupun harta.” (HR. Ahmad, Abu
Daud, Turmudzi, Ibnu Majah, dan dishahihkan Al-Albani)
Dengan memahami hal ini, setidaknya kita berusaha
mengedepankan sikap tunduk kepada takdir, dalam arti
tidak terlalu bingung dalam menghadapi kenaikan harga,
apalagi harus stres atau bahkan bunuh diri. Semua sikap
ini bukan solusi, tapi justru menambah beban dan
memperparah keadaan.
Jatah rezeki yang Allah tetapkan tidak akan bertambah
maupun berkurang. Meskipun, masyarakat Indonesia
diguncang dengan kenaikan harga barang, itu sama
sekali tidak akan menggeser jatah rezeki mereka.
Allah menyatakan,
ﻭَﻟَﻮْ ﺑَﺴَﻂَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟﺮِّﺯْﻕَ ﻟِﻌِﺒَﺎﺩِﻩِ ﻟَﺒَﻐَﻮْﺍ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﻳُﻨَﺰِّﻝُ ﺑِﻘَﺪَﺭٍ ﻣَﺎ
ﻳَﺸَﺎﺀُ ﺇِﻧَّﻪُ ﺑِﻌِﺒَﺎﺩِﻩِ ﺧَﺒِﻴﺮٌ ﺑَﺼِﻴﺮٌ
“Andaikan Allah melapangkan rezeki kepada hamba-
hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di
muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang
dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia
Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi
Maha Melihat.” (QS. As-Syura: 27)
Ibnu Katsir mengatakan,
ﺃﻱ : ﻭﻟﻜﻦ ﻳﺮﺯﻗﻬﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺯﻕ ﻣﺎ ﻳﺨﺘﺎﺭﻩ ﻣﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﺻﻼﺣﻬﻢ، ﻭﻫﻮ
ﺃﻋﻠﻢ ﺑﺬﻟﻚ ﻓﻴﻐﻨﻲ ﻣﻦ ﻳﺴﺘﺤﻖ ﺍﻟﻐﻨﻰ، ﻭﻳﻔﻘﺮ ﻣﻦ ﻳﺴﺘﺤﻖ ﺍﻟﻔﻘﺮ .
“Maksud ayat, Allah memberi rezeki mereka sesuai
dengan apa yang Allah pilihkan, yang mengandung
maslahat bagi mereka. Dan Allah Maha Tahu hal itu,
sehingga Allah memberikan kekayaan kepada orang yang
layak untuk kaya, dan Allah menjadikan miskin sebagian
orang yang layak untuk miskin.” (Tafsir Alquran al-Adzim,
7:206)
Jaga shalat, semahal apapun harga pangan, Allah
menjamin rizki anda,
Allah berfirman,
ﻭَﺃْﻣُﺮْ ﺃَﻫْﻠَﻚَ ﺑِﺎﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻭَﺍﺻْﻄَﺒِﺮْ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﻟَﺎ ﻧَﺴْﺄَﻟُﻚَ ﺭِﺯْﻗًﺎ ﻧَﺤْﻦُ ﻧَﺮْﺯُﻗُﻚَ
ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﻗِﺒَﺔُ ﻟِﻠﺘَّﻘْﻮَﻯ
“Perintahkahlah keluargamu untuk shalat dan
bersabarlah dalam menjaga shalat. Aku tidak meminta
rizki darimu, Aku yang akan memberikan rizki kepadamu.
Akibat baik untuk orang yang bertaqwa.” (QS. Thaha:
132)
Di masa silam, terjadi kenaikan harga pangan sangat
tinggi. Merekapun mengadukan kondisi ini kepada salah
seorang ulama di masa itu. Kita lihat, bagaimana
komentar beliau,
ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﺃﺑﺎﻟﻲ ﻭﻟﻮ ﺃﺻﺒﺤﺖ ﺣﺒﺔ ﺍﻟﺸﻌﻴﺮ ﺑﺪﻳﻨﺎﺭ ! ﻋﻠﻲَّ ﺃﻥ ﺃﻋﺒﺪﻩ
ﻛﻤﺎ ﺃﻣﺮﻧﻲ، ﻭﻋﻠﻴﻪ ﺃﻥ ﻳﺮﺯﻗﻨﻲ ﻛﻤﺎ ﻭﻋﺪﻧﻲ
“Demi Allah, saya tidak peduli dengan kenaikan harga ini,
sekalipun 1 biji gandum seharga 1 dinar! Kewajibanku
adalah beribadah kepada Allah, sebagaimana yang Dia
perintahkan kepadaku, dan Dia akan menanggung rizkiku,
sebagaimana yang telah Dia janjikan kepadaku.”
Allahu a’lam
sumber : konsultasi syari'ah

Selasa, 25 November 2014

Repost, Jangan Menunggu

13 kata “JANGAN MENUNGGU” yg perlu dihindari:
*************************

��1. Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka kamu akan bahagia.

��2. Jangan menunggu kaya baru bersedekah, tapi bersedekahlah, maka kamu semakin kaya.

��3. Jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergeraklah, maka kamu akan termotivasi.

��4. Jangan menunggu dipedulikan orang baru kamu peduli, tapi pedulilah dengan orang lain! Maka kamu akan dipedulikan ….

��5. Jangan menunggu orang memahami kamu. baru kamu memahami dia, tâÞi pahamilah orangitu, maka orang itu paham dengan kamu.

��6. Jangan menunggu terinspirasi baru menulis.tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu.

��7. Jangan menunggu projek baru bekerja, tapi bekerjalah, maka projek akan menunggumu.

��8. Jangan menunggu dicintai baru mencintai, tapi belajarlah mencintai, maka kamu akan dicintai.

��9. Jangan menunggu banyak uang baru hidup tenang, tapi hiduplah dengan tenang. Percayalah bukan sekadar uang yang datang tapi juga rezeki yang lainnya.

��10. Jangan menunggu contoh baru bergerak mengikuti, tapi bergeraklah, maka kamu akan menjadi contoh yang diikuti.

��11. Jangan menunggu sukses baru bersyukur tapi bersyukurlah, maka bertambah kesuksesanmu.

��12. Jangan menunggu bisa baru melakukan, tapi lakukanlah! Maka kamu pasti bisa!

��13. Jangan menunggu waktu luang tuk membaca Alqur'an,
Tapi luangkan waktu tuk membaca Alqur'an,

Senin, 24 November 2014

Repost, Agar Tarbiyah Berkesan Mendalam

AGAR TARBIYAH BERKESAN MENDALAM
(Ust Musyafa Lc)
Terkadang orang mengaitkan sukses dan kesan tarbiyah kepada aneka rupa slide yang berwarna wani, pernak-pernik animasi dan semacamnya. Atau istinya: dikaikan dengan hal-hal yang bersifat tayangan dan pemaparan.
Ada juga yang mengaitkan sukses dan kesan tarbiyah kepada kemampuan murabbi dalam melakukan olah kata; tinggi rendah suara, keras lembutnya, atau intinya: kemampuan orasi sang murabbi.
Ada juga yang mengaitkannya dengan materi yang disampaikan dari sisi temanya yang baru, pernak-pernik argumen yang dikemukakan, ilustrasi, deskripsi dan hal-hal semacam yang berkenaan dengan judul dan materi.
Dengan tidak bermaksud menafikan semua hal tersebut dan peranannya dalam sukses dan tarbiyah yang berkesan, perlu diketahui bahwa semua hal tersebut adalah aspek-aspek luaran atau lahiriah.
Sementara, tarbiyah yang sesungguhnya adalah tarbiyah Rabbaniyyah, yaitu mentarbiyahkan nilai-nilai Rabbani, nilai-nilai yang berasal dari Allah SWT, nilai-nilai yang habitat dan tempat bersemayamnya adalah hati, hati nurani, hati yang menjadi kunci bagi kebaikan jiwa raga manusia.
«... أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ، صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ، فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ» (متفق عليه: البخاري [52] ومسلم [1599]).
Ingatlah bahwasanya di dalam jasad ada segumpal daging, jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad, ingatlah, segumpal daging itu adalah hati (Hadits Muttafaq ‘Alaih: Bukhari [52] dan Muslim [1599]).
Oleh karena inilah aspek qalbu inilah yang perlu lebih mendapatkan perhatian dari sisi:
1. Keikhlasannya (الإخلاص).
2. Tajarrud (totalitas)-nya (تَمَامُ التَّجَرُّدِ).
3. Kedalaman hubungan interaktif dan emosional antara murabbi dengan tema atau permasalahan yang disampaikan (عُمْقُ الاِنْفِعَالِ مَعَ الْقَضِيَّةِ), dan
4. Kebersihan hati dari motif-motif duniawi (اَلْبَرَاءَةُ مِنَ الْأَجْرِ اَلدُّنْيَوِيِّ).
Tersebutlah cerita tentang seorang muadzdzin yang bernama Haji Mukhtar Ahmad yang jama’ah masjidnya sepakat bahwa suara adzannya mampu menggugah mereka yang terlelap tidur, lalu menggerakkan mereka untuk pergi menuju masjid dan melakukan shlat berjama’ah Shubuh.
Para jama’ah pun mencari-cari: apa rahasia dibalik kesan mendalam Haji Mukhtar Ahmad ini. Dari obrolan para jama’ah, disimpulkanlah empat hal di atas, yang lalu kesimpulan ini dijadikan sebagai ibrah dan pelajaran untuk para da’i dan murabbi.
Betapa tidak.. sebab, pada hakekatnya, Haji Mukhtar Ahmad adalah seorang yang berada dan berkecukupan, namun, atas pilhan dan kerelaannya, ia menobatkan dirinya menjadi muadzdzin di sebuah masjid. “profesi” ini ia lakoni bertahun-tahun, semenjak ia masih muda, sampai ia menjadi tua. Maka jelas sekali kesimpulan dari pilihan Haji Mukhhar Ahmad ini.
Padahal, kalau dipikir-pikir, bukankah kalimat adzan itu semua jama’ah telah menghafalnya dengan baik? Dan bukankah kalimat itu berupa kalimat-kalimat pendek nan singkat? Sudah begitu, diulang-ulang pula pengumandangannya?
Jadi, bisa saja suatu tema, atau sebuah judul itu berulang, atau sudah dihafal oleh mutarabbi atau audiens, bisa jadi juga yang disampaikan “hanya” itu-itu saja.
Namun, bila hal ini keluar dari orang yang “mempunyai hati”, maka tema atau judul itu akan memiliki kesan yang sangat mendalam.
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (الشمس: 9 - ١٠)
Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q.S. Asy-Syams: 9 – 10).
(Tulisan diolah dari kitab Manhajiyyat at-Tarbiyyah ad-Da’awiyyah, hal. 8).
Semoga ada manfaatnya, amin.

Senin, 17 November 2014

Sejarah Kaila 38

KaBAR 38 Kemarin :
Sedikit Melirik Ke Belakang Untuk Banyak Mencintai Ke Depan

Orang-orang yang terlibat aktif dalam dunia dakwah banyak yang mengatakan bahwa dakwah sekolah seolah-olah mengalami “kelesuan”. Padahal proses regenerasi dan dinamisasi dalam dakwah sekolah tak pernah berhenti. Sir Muhammad Iqbal pernah berkata, “sekali lagi kita mesti memandang masa lalu karena kita mesti berpikir lagi” Untuk itu mari sejenak menatap sekilas ke belakang untuk kemajuan ke depan.

Embrio itu bernama IRHAS

Titik awal pembentukan sebuah forum alumni ROHIS 38 adalah semangat membina di SMU sedang tinggi-tingginya pada tahun 1993, karena waktu itu adalah zaman transisi. Angkatan itu adalah awal angkatan lepasnya pengaruh DI (Darul Islam) dari ROHIS 38. Angkatan 1993 adalah angkatan yang benar-benar murni dibina dengan sistem daurah halaqah Tarbiyah.
Maka, Bang Wawan R.(ROHIS 38 angkatan 1993) dan saudara-saudari seangkatannya membentuk sebuah forum bernama Ikatan Remaja Harasul Islam disingkat IRHAS. Kenapa IRHAS ? Alasannya waktu itu dengan nama ikatan diharapkan lebih mengikat dan juga terikat dengan 38 sehingga dicoba membuat nama seperti ikatan remaja Masjid/ Musholla.

Akhirnya Menjadi KaBAR 38

Saat itu, Struktur IRHAS  masih sangat sederhana, hanya ada Ketua, Sekretaris, Bendahara dan Divisi Pembinaan. Program yang dijalankan juga cuma sedikit. Periode IRHAS berlangsung 1993-1995. Setelah dua tahun perjalanan, IRHAS ditetapkan harus lebih profesional tidak lagi seperti remaja masjid. Akhirnya, IRHAS dibubarkan dan menjadi KaBAR (Keluarga Besar Alumni ROHIS 38) yang diketuai oleh Bang Slamet. KaBAR 38 mempunyai AD/ART dan punya rencana ke depan yang sangat besar bahwa KaBAR 38 haruslah menjadi yayasan dan itu ditetapkan maksimal tiga periode setelah KaBAR 38 terbentuk.

Setelah Sejarah
“Human thought can be understood only by examining its history”
(Lev Semyonovich Vygotsky)

Sebuah organisasi sebenarnya adalah seorang manusia dengan kekhasannya masing-masing. Begitu juga dengan KaBAR 38 adalah manusia yang bisa kita pelajari kekhasannya. Anggota ROHIS 38 dahulu ternyata adalah orang-orang luar biasa. Kita telusuri satu-satu kekhasannnya. Pertama, generasi ghuroba. Pengurus ROHIS dan bukan ROHIS sangat terlihat sekali perbedaannya. Para pengurus ROHIS saat bulan Ramadhan ketika seisi kelas dan teman-temannya bercanda atau memainkan gitar atau menghabiskan waktu dengan kurang bermanfaat maka pengurus ROHIS mencoba mengajak mereka ke Musholla untuk tilawah atau sholat sunnah. Kedua, generasi prestasi. Pengurus ROHIS dikenal sebagai siswa-siswi berprestasi. Ketiga, generasi aktifis. Tentu saja pengurus ROHIS dikenal sebagai siswa-siswi yang aktif tetapi bayangkan dahulu mereka tidak hanya ROHIS tetapi juga menjadi OSIS dan memegang kebijakan peraturan siswa yang bisa mengantarkan sekolah dan ruangan OSIS ke bi’ah(kondisi) Islam yang kondusif.

Tentang Dakwah Fardiyah

Dakwah Fardiyah merupakan konsep wajib bagi pengurus ROHIS dan pengurus KaBAR 38 dahulu. Dulu satu orang kita harus kenal tiga orang baru. Contoh : pengurus KaBAR 38 datang ke sekolah dan bertemu dengan siswa/i yang belum dikenalnya maka pengurus itu harus berkenal dengan siswa/i tersebut entah dia anak ROHIS atau bukan. Terus ditempel dan akhirnya dipegang/dibina. Kalau tidak sanggup untuk membinanya maka harus dikenalkan atau diserahkan kepada pengurus KaBAR 38 yang lain.

Tentang Ukhuwah

Empati, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah seseorang mampu memahami perasaan dan pikiran orang lain. Empati didapatkan dari pemahaman dan pengertian antar pengurus KaBAR 38, memang ada yang bekerja, ada yang kuliah, ada yang menikah tetapi masing-masing menjalankan fungsi dan perannya di KaBAR 38 tidak menyerahkan tanggung jawab begitu saja ke orang lain.

Seharusnya Menjalankan Grand Design

Tanggal 4 November 2006 dibuat sebuah Grand Design (desain besar) KaBAR 38. Sebuah konsep besar tentang Dakwah Sekolah 38 namun apa daya, konsep besar itu hanya berlangsung satu tahun mirip-mirip dengan gejala banyak organisasi yang tidak melanjutkan apa-apa yang sudah baik sebelumnya tetapi enggan diteruskan sesuatu yang sudah baik tersebut. Ini memang dilema, di satu sisi harus membuat inovasi tetapi di sisi lain harus meneruskan warisan yang bisa jadi usang dan bisa jadi memang harus dilakukan secara kontunuitas.

Lalu kemudian...?

Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk sekadar nostalgia biasa tentang perjuangan, bukan pula ditujukan untuk hanya mengingat sebuah cerita masa lalu apalagi hanya dibaca saja. Hal-hal tersebut di atas adalah sebuah sajian luar biasa jika kita mengkontempelasinya lebih lanjut. Karena kehidupan adalah tentang tantangan. Karena bisa jadi tulisan ini berbicara sebagai aktivis dakwah yang mengalami kondisi yang kental, sementara era sekarang sudah berubah, era 2.0 dimana Facebook, Twitter dan Skype menjadi teman setia para manusia. Keterbukaan, kompleksitas, pluralitas yang makin besar harus disikapi djuga dengan metode dan cara yang khusus. Tulisan ini dibuat agar semua entitas KaBAR 38, khususnya para penerus dakwah di KaBAR 38 bisa mengetahui hal tentang KaBAR. Semoga tulisan singkat ini bermanfaat minimal tidak merugikan.
Wallahu’alam bish showab.

Johan Rio Pamungkas-Alumni ROHIS SMA 38 Angkatan 2006, Staff Departemen Pemberdayaan Alumni (BERANI) Keluarga Besar Alumni ROHIS (KABAR 38)

Sumber:
1.Buletin An-Nahl,XIX, Oktober 2004
2.Buletin KaBAr 38,bulan Agustus 2010
3.Wawancara dengan Bapak Suhendri angkatan 1998
4.Wawancara dengan Bapak Abid angkatan 1995
5.Javid Nammah,Muhammad Iqbal
6.Metodologi Sejarah,Lev Semyonovich Vygotsky

Sabtu, 15 November 2014

Repost, Karena Ukuran Kita Tak Sama

Karena Ukuran Kita Tak Sama
Oleh Salim A. Fillah dlm "Lapis-lapis keberkahan"

Seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya
memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti
memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan
kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi.

Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.

Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,

“Masya Allah” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!”

Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab.

”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya,

“Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!”

Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.

”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah akan menanyakannya padaku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai ‘Utsman!” ’Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya bersiponggang menggema memenuhi lembah dan bukit di sekalian padang.

“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman,“Akan kusuruh pembantuku menangkapnya untukmu!”.

”Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman! Masuklah!”

“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.“

“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai pasirnya mengganas!”

Angin makin kencang membawa butiran pasir membara. ‘Utsman pun masuk dan menutup pintu dangaunya. Dia bersandar dibaliknya & bergumam,

”Demi Allah, benarlah Dia & RasulNya. Engkau memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi terpercaya.”

‘Umar memang bukan ‘Utsman. Pun juga sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki.

‘Umar, jagoan yang biasa bergulat di Ukazh, tumbuh di tengah bani Makhzum nan keras & bani Adi nan jantan, kini memimpin kaum mukminin. Sifat-sifat itu –keras, jantan, tegas, tanggungjawab & ringan tangan turun gelanggang – dibawa ‘Umar, menjadi ciri khas kepemimpinannya.

‘Utsman, lelaki pemalu, anak tersayang kabilahnya, datang dari keluarga bani ‘Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman sentausa. ’Umar tahu itu. Maka tak dimintanya ‘Utsman ikut turun ke sengatan mentari bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan diri. Tidak. Itu bukan kebiasaan ‘Utsman. Rasa malulah yang menjadi akhlaq cantiknya. Kehalusan budi perhiasannya. Kedermawanan yang jadi jiwanya. Andai ‘Utsman jadi menyuruh sahayanya mengejar unta zakat itu; sang budak pasti dibebaskan karena Allah & dibekalinya bertimbun dinar.

Itulah ‘Umar. Dan inilah ‘Utsman. Mereka berbeda.

Bagaimanapun, Anas ibn Malik bersaksi bahwa ‘Utsman berusaha keras meneladani sebagian perilaku mulia ‘Umar sejauh jangkauan dirinya. Hidup sederhana ketika menjabat sebagai Khalifah misalnya.

“Suatu hari aku melihat ‘Utsman berkhutbah di mimbar Nabi ShallaLlaahu ‘Alaihi wa Sallam di Masjid Nabawi,” kata Anas . “Aku menghitung tambalan di surban dan jubah ‘Utsman”, lanjut Anas, “Dan kutemukan tak kurang dari tiga puluh dua jahitan.”

Dalam Dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi.

Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat tulus pada saudara yang sedang diberi amanah memimpin umat. Tetapi jangan membebani dengan cara membandingkan dia terus-menerus kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat pada saudara yang tengah diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninya dengan cara menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat saudara yang dianugerahi ilmu. Tapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai bahawa Ibrani dalam empat belas hari.

Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh lain pada masa yang berbeda. ‘Ali ibn Abi Thalib yang pernah diperlakukan begitu, punya jawaban yang telak dan lucu.

“Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan ‘Umar” kata lelaki kepada ‘Ali, “Keadaannya begitu tentram, damai dan penuh berkah. Mengapa di masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaanya begini kacau dan rusak?”

“Sebab,” kata ‘Ali sambil tersenyum, “Pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar, rakyatnya seperti aku.
Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”

Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, “Utsman atau ‘Ali.

Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’d ibn Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar, fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.

Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.

Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.

Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang lain adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai sesama mukmin, perbedaan dalam hal-hal bukan asasi
tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”. Istilah yang tepat adalah “shawab” dan “khatha”.

Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuatnya lebih berlainan lagi antara satu dengan yang lain.

Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita pahami, itu tidak seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya.

Imam Asy Syafi’i pernah menyatakan hal ini dengan indah. “Pendapatku ini benar,” ujar beliau,”Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, namun bisa jadi mengandung kebenaran.”

Sepenuh cinta..

Diambil dari buku 'Lapis Lapis Keberkahan', Salim A. Fillah

Minggu, 09 November 2014

Maaf , Saya Keluar ODOJ!

Sempat terbersit melakukan ini, "keluar dari ODOJ" tapi sepertinya #AllahmasihsayangAlin dan selalu niat untuk keluar ODOJ itu pupus.. Pas baca sepenggal cerita ini (nunjuk artikel, yap!) #tersenyum. Ternyata hampir semua orang mengalami yang aku alami, semangat goyah ditengah jalan. Semoga reshare artikel ini bisa buat kita tetep istiqomah.
Monggo dibaca :

Maaf, Saya Keluar dari ODOJ !

Pernah terpikir keluar dari grup one day one juz?
Saya pernah.
Ada masa dimana kita di titik nadir seperti si pandir.

Iman kita terperosok, diri tak mencerminkan sosok.Kesibukan hari demi hari berkelindan, amanah jadi komandan terabaikan.

Semangat tilawah sehari sejuz pun tergerus. Tekanan untuk left makin 'right'.

Saya ingin keluar group!

Allah rupanya lebih tahu isi hati si calon mati. Dia punya cara sendiri untuk mengeluarkan saya. Doa kecil itu dikabulkan. Lewat hape yang raib di tangan. Lama tak beri laporan, akhirnya saya ditendang dari lingkaran.Lihat, Allah kabulkan!

Lihat, saya keluar dari grup , kawan!

Tak lama kemudian ada pesan pendek.

Sebuah sapaan hangat. Sebuah rangkulan, diberi kesempatan untuk masuk lagi dalam pusaran.

Kejutan!

Betapa Allah Mahabaik!

Ternyata obsesi keluar bukan dari saya saja, malam ini ada yang keluar satu. Beriringan itu seorang teman bernama Faiz memberikan kalimat-kalimat indah seperti ini:
Saya pernah terpikir untuk keluar... toh walau berat sudah bisa mencoba istiqomah untuk ngeJuz, walau pernah kebobolan beberapa kali...

tapi ada satu hal yg membuatku untuk tetap bertahan di sini...

yaitu persaudaraan dengan kalian karna Allah...

Jika aku memutuskan tuk keluar, pasti agak susah dan segan tuk berbincang berdiskusi dan berbagi ilmu dengan kalian...

pasti jalinan silaturrahim dan komunikasi akan terputus dan susah utk disambung kembali, karna adanya jarak yang memisahkan...

Mudah2an bisa terus istiqomah dan dipersaudarakan dengan kalian dalam wadah grup ODOJ ini...

jika aku berpikir tuk keluar, tolong nasihati dan ingatkan kembali yg pernah aku tuliskan ini...

Al-Hasan al-Bashri rahimahullaah pernah berkata:"Tak ada yg tersisa dari kehidupan kecuali tiga hal, yg pertama adalah saudara (akh)-mu yg dpt kau peroleh kebaikan dengan bergaul dengannya. Bila engkau tersesat dari jalan lurus, ia segera meluruskanmu...

"mudah2an kita bs istiqomah dan terus dipersaudarakan di jalan kebenaran... walau tak sempat bertegur sapa secara langsung di dunia, berharap bisa saling bernostalgia dan berbagi cerita di surga-Nya... aamiin.

Begitulah penuturannya.
Apakah kau juga berkeinginan keluar?

Redaktur: Muhammad Sholich Mubarok/ @paramuda

Jumat, 07 November 2014

Repost, Mari Selamatkan Generasi #4L4Y

MARI SELAMATKAN GENERASI #4L4Y
by : bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)
1| Kasihanilah mereka, anak-anak yg tidak punya pendirian. Ikut sana ikut sini. Persis seperti manusia luar angkasa tanpa gravitasi jiwa
2| Saat ada pilihan, tak punya kemampuan memutuskan. Lebih suka ikut apa kata teman. "Terserah". Itu kalimat yg selalu diucap berulang-ulang
3| Diajak kebaikan mau, diajak maksiat setuju. Sholatnya rajin,maksiat juga rutin. Prinsip mereka : amar ma'ruf nyambi mungkar
4| Jangan pernah bertanya yg sulit sebab jawaban mereka amat irit :"Yaa gitu deh". Tak ada kemampuan berpikir. Emosi meledak seperti petir
5| Wajarlah mereka disebut #4L4Y. Sebab kalau bicara amat lebay. #4L4Y itu Anak meLAYang. Hidupnya sekedar senang-senang. Suka cari sensasi agar dipandang
6| #4L4Y itu generasi sekarat. Abai urusan sholat, gemar ikuti syahwat (QS.19 :59). Tak peduli urusan akherat. Semua dilakukan sekedar memburu nikmat
7| Sholat mungkin tak ketinggalan, tapi pacaran tetap diutamakan. Ke masjid pun perlu dandan. Siapa tau ada gebetan. Lumayan
8| #4L4Y itu anak butuh dibelai. Dari kecil orang tua abai. Tak pernah dididik, lebih sering dihardik. Sudah besar cuma cari yg asyik-asyik
9| Entah kenapa #4L4Y menjadi tren. Kalau gak ikut gak beken. Ini isyarat pendidikan keluarga mulai goyah. Menghasilkan anak-anak generasi lemah (QS. 4:9)
10| #4L4Y itu bisa juga bermakna Anak kehiLAngan AYah. Ayah cuma sibuk mencari nafkah. Bermain dan bercerita tidak pernah. Maka banyak anak yg tak betah dirumah
11| #4L4Y memiliki ayah tapi yatim. Ayah hanya bermain satu kali semusim. Mereka tak punya jiwa berani, sebab ayah jarang ada di sisi
12| Saat mereka butuh perhatian, ayah sibuk dengan kerjaan. Saat mereka sedang galau, ayah sibuk cari emas berkilau. Hidup mereka makin kacau
13| Ayah lupa bahwa nasab anak merujuk kepadanya. Ini sebuah isyarat kelak pertanggungjawaban akan dipinta oleh Yang Kuasa
14| Anak tanpa kehadiran ayah cenderung jadi peragu. Apa-apa lebih pentingkan perasaan melulu
15| Saatnya ayah kembali mengasuh. Sebab anak teramat butuh. Tak perlu mengeluh. Jadilah ayah yg teguh. Ini solusi yg ampuh
16| Jika ayah peduli rumah, bantu selesaikan masalah. Maka generasi#4L4Y tak lagi mewabah. Lama-lama musnah
17| Mulailah dengan bermain bersama anak. Tinggalkan pekerjaan sejenak. Buat anak merasa nyaman. Ayah menjadi teladan
18| Saat libur, jangan banyak tidur. Ini waktu untuk saling tegur. Anak merasa dihibur. Buat jadwal teratur
19| Jangan malu ucapkan kata cinta. Ini kalimat sakti pengikat jiwa. Anak tak tergila-gila meniru ‘ganteng-ganteng serigala’
20| Selamatkan generasi #4L4Y dengan pengasuhan yg patut. Semua pihak wajib ikut. Jika terlambat, negeri ini di ambang bangkrut. (bendri jaisyurrahman)
Copas dr grup sebelah

Selasa, 04 November 2014

Repost, Aku Rindu Zaman itu

AKU RINDU ZAMAN ITU

Oleh: K H Rahmat Abdullah, Allahu Yarham

Aku rindu zaman ketika “halaqoh” adalah kebutuhan, bukan sekedar sambilan apalagi hiburan.

Aku rindu zaman ketika “membina” adalah kewajiban, bukan pilihan apalagi beban dan paksaan.

Aku rindu zaman ketika “dauroh” menjadi kebiasaan, bukan sekedar pelengkap pengisi program yang dipaksakan.

Aku rindu zaman ketika “tsiqoh” menjadi kekuatan, bukan keraguan apalagi kecurigaan.

Aku rindu zaman ketika “tarbiyah” adalah pengorbanan, bukan tuntutan dan hujatan.

Aku rindu zaman ketika “nasihat” menjadi kesenangan, bukan su’udzon atau menjatuhkan.

Aku rindu zaman ketika kita semua memberikan segalanya untuk da’wah ini.

Aku rindu zaman ketika “nasyid ghuroba” menjadi lagu kebangsaan.

Aku rindu zaman ketika hadir di “liqo” adalah kerinduan, dan terlambat adalah kelalaian.

Aku rindu zaman ketika malam gerimis pergi ke puncak mengisi dauroh dengan ongkos ngepas dan peta tak jelas.

Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah benar-benar jalan kaki 2 jam di malam buta sepulang tabligh da'wah di desa sebelah.

Aku rindu zaman ketika akan pergi liqo selalu membawa uang infak, alat tulis, buku catatan dan Qur’an terjemahan ditambah sedikit hafalan.

Aku rindu zaman ketika seorang binaan menangis karena tak bisa hadir di liqo.

Aku rindu zaman ketika tengah malam pintu depan diketok untuk mendapat berita kumpul subuh harinya.

Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah berangkat liqo dengan ongkos jatah belanja esok hari untuk keluarganya.

Aku rindu zaman ketika seorang murobbi sakit dan harus dirawat, para binaan patungan mengumpulkan dana apa adanya.

Aku rindu zaman itu, Aku rindu…

Ya ALLAH...
Jangan Kau buang kenikmatan berda’wah dari hati-hati kami...
Jangan Kau jadikan hidup ini hanya berjalan di tempat yang sama...

Minggu, 02 November 2014

INSPIRASI

Sharing dan Diskusi Gerakan Sosial Berbasis Komunitas
DPW PKS, Ahad 2 Nov 2014

ABAH TARIYAT, PENDIRI DAN PENGGERAK KOMUNITAS SUGIH MUKTI

Komunitas Sugih Mukti Mandiri berdiri awalnya krn kekecewaan atas pengelolaan produk lokal. Produk import slalu Dibanding2kan dg produk lokal. Padahal kualitas lokal lbh baik.
Kalah saing harganya. Nego slalu gagal.

Harga susu lokal dibeli murah, lahan ga dialokasikan pemerintah, sehingga ga berkembang.

Berkumpullah 150 orang petani dan membentuk komunitas Sugih Mukti. Susu diolah jd yoghurt, permen, susu pasteurized dll. Karena diolah, harganya jd naik.
Slain susu, pupuk jg diolah jd biogasm gasnya dikasih ke masy gratis, sisanya buat kompos dan beternak cacing. Cacingnya dijual lagi, atau jadi pakan lele.

Dari sini juga muncul sekolah gratis. Walau sekolah gratis, kualitasnya ga murahan. Cieh.. :D

Oiya.. Komunitas Mukti Mandiri berkolaborasi dg masy setempat. Ada pemasaran produk pupuk, susu dll. Dari sini tercipta jaringan deh, sehingga komunitas yg terbentuk ini gak cuma mukti (sejahtera), mandiri, tp jg saling menguatkan.

Komunitas ini masuk jualannya ke skolah2 lewat kementerian agama.. nge-grab captive market dulu.

* * *

DANAR, PENGELOLA 1000 BANK SAMPAH

Bandung kota sampah euyy.. Karena perilaku warganya suka buang sampah sembarangan..orang kaya, org miskin, smuanya.

Data sampah di bandung th 2007
7500 mete kubik/hr atau setara 2000 ton sehari!
Sama dg 3x volume kolam renang olympic.

Rancangan program pembenahan kota Bandung menggunakan Aplikasi tekno cluster.

Sedekah sampah : 20 : 20 : 1
20 botol yg disedekahkan dr 20 orang, bs memberi harapan 1 jam utk Anak Gizi Buruk.

Alur kerjanya
A. Sediakan 2 karung transparan di setiap kelas
B. Anak2 boleh kumpulin sampah dr rumah
C. Kalo sdh penuh, dipindah ke gudang
D. Ditimbang dan dicatat di slip setoran dan buku tabungan msg2 kelas
E. Sampah diangkut oleh pundisampah.com
F. Hasil penjualan dikembalikan ke rekening kelas
G. Jika saldo tabungan kelaa mencapai nominal yg tlh ditentukan. Maka pihak Bank Sampah Sekolah berkord dg pundisampah.com

Kalo ujug2 ngajak masy misahin sampah basah dan kering ke masy, biasanya mrk males. Daan jk mrk diiming2 bs dapet uang dengan program bank sampah, mrk lbh suka jual ke loak, langsung dpt duit cash.
Jd masy perlu contoh dulu.. 1 org melalukan, trus ngasi liat "nih saya udah dapet 200 ribu dr ngelola sampah", mrk akan ikutan. *padah sebelumnya udah diedukasi lho.. Krik krik..

Ide seru lainnya adalah hasil dr Bank Sampah dikonversi menjadi asuransi.

* * *

IDZMA - komunitas KidzSmile

Prinsip kidzsmile : Small Thing, HIGH IMPACT.

Broken window theory : sebuah masalah dlm suatu kota, bisa berawal dari jendela pecah.
Kalo ada rumah dg jendela pecah, bs ada kucing masuk, dijadiin tempat nongkrong dsb.
Berkebalikan dr ini, KidzSmile percaya kalo aksi2 kecil yg dilakukan akan berdampak besar.

Programnya ada rumah senyum,  taman main dll.

Bs dibilang tiap Kidzsmile turun ke masy, ga keluar duit banyak. Msg2 orang ngasih apa yg mereka punya..ada yg nyumbang bensin, mobil dll. Bahkan utk ratusan titik yg mereka terjuni, cm keluar 2-3 juta. Segala perlengkapan, suvenir dll, smua dari kolaborasi kesukarelawanan banyak org. Ada psikolog yg bantu assessment, dokter gigi yg bantu periksa gigi dsb.

Biasanya Kidzsmile cerita ke komunitas lain, punya program abcd.. Lalu kerjasama. Datang ke suatu daerah, ngasi pelatihan, yg sediakan fasilitasnya masy tsb.

Pendekatan Appreciative Inquiry (AI) bilang, setiap org punya potensi, kekuatan. Dan kekuatan itulah yg digarap. Krn orang yg punya pasti lebih mudah memberi drpd yg gak punya.

* * *
Share ust. Wahyudin, caleg yang kampanyenya dengan menggerakkan komunitas.

Pernah ada program jamaah, kembali ke asal. Kader2 membangun daerah asalnya. Waktu itu ke Aceh, programnya menghafal qur'an.

Jd memang pola dakwah seperti ini efektif, karena yg namanya dakwah harus terus berjalan, ga cuma sporadis dan insidental.
Memberdayakan potensi masy setempat, kolaborasi, gerakkan. Insya Allah jauh lebih bermanfaat dan berkepanjangan..

* * *
Intinya kalo mau memulai sesuatu di masyarakat, cari sekutu dulu.. Lalu tanya kebutuhan masy.seperti apa.
Jangan maksa nerobos tembok, tapi masuklah dari pintu yang terbuka. Lalu 'serang' dari dalam.
Bersabar dengan prosesnya, ingat2 selalu goal akhirnya.

Smg menginspirasi, dan menggerakkan!  

Diresume fresh dari tekape oleh @indrafathiana

Repost, Cintai Anakmu Untuk Selamanya

~Cintai Anakmu untuk Selamanya~

Pada saatnya anak-anak akan pergi, meninggalkan kita, sepi...

Mereka bertebaran di muka bumi untuk melaksanakan tugas hidupnya; berpencar, berjauhan.
Sebagian di antara mereka mungkin ada yang memilih untuk berkarya dan tinggal di dekat kita agar berkhidmat kepada kita.
Mereka merelakan terlepasnya sebagian kesempatan untuk meraih dunia karena ingin meraih kemuliaan akhirat dengan menemani dan melayani kita.

Tetapi pada saatnya, kita pun akan pergi meninggalkan mereka.
Entah kapan.
Pergi dan tak pernah kembali lagi ke dunia ini....

Sebagian di antara kematian adalah perpisahan yang sesungguhnya; berpisah dan tak pernah lagi berkumpul dalam kemesraan penuh cinta.
Orangtua dan anak hanya berjumpa di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala, saling menjadi musuh satu sama lain, saling menjatuhkan.
Anak-anak yang terjungkal ke dalam neraka itu tak mau menerima dirinya tercampakkan sehingga menuntut tanggung-jawab orangtua yang telah mengabaikan kewajibannya mengajarkan agama.

Adakah itu termasuk kita?
Alangkah besar kerugian di hari itu jika anak dan orangtua saling menuntut di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala.

Inilah hari ketika kita tak dapat dibela pengacara, dan para pengacara tak dapat membela diri mereka sendiri.
Lalu apakah yang sudah kita persiapkan untuk mengantarkan anak-anak pulang ke kampung akhirat?
Dan dunia ini adalah ladangnya...

Sebagian di antara kematian itu adalah perpisahan sesaat; amat panjang masa itu kita rasakan di dunia, tapi amat pendek bagi yang mati.
Mereka berpisah untuk kemudian dikumpulkan kembali oleh Allah Jalla wa 'Ala. Tingkatan amal mereka boleh jadi tak sebanding.
Tapi Allah Ta'ala saling susulkan di antara mereka kepada yang amalnya lebih tinggi.

Allah Ta'ala berfirman:

"والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء كل امرئ بما كسب رهين"

"Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya."

(QS. Ath-Thuur, 52: 21).

Diam-diam bertanya, adakah kita termasuk yang demikian ini?
Saling disusulkan kepada yang amalnya lebih tinggi.
Termasuk kitakah?

Adakah kita benar-benar mencintai anak kita?
Kita usap anak-anak kita saat mereka sakit.
Kita tangisi mereka saat terluka.
Tapi adakah kita juga khawatiri nasib mereka di akhirat?
Kita bersibuk menyiapkan masa depan mereka.
Bila perlu sampai letih badan kita.

Tapi adakah kita berlaku sama untuk "masa depan" mereka yang sesungguhnya di kampung akhirat?

Tengoklah sejenak anakmu.
Tataplah wajahnya. Adakah engkau relakan wajahnya tersulut api nereka hingga melepuh kulitnya?
Ingatlah sejenak ketika engkau merasa risau melihat mereka bertengkar dengan saudaranya.
Adakah engkau bayangkan ia bertengkar denganmu di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala karena lalai menanamkan tauhid dalam dirinya?

Ada hari yang pasti ketika tak ada pilihan untuk kembali.
Adakah ketika itu kita saling disusulkan ke dalam surga atau saling bertikai?

Maka, cintai anakmu untuk selamanya!
Bukan hanya untuk hidupnya di dunia.
Cintai mereka sepenuh hati untuk suatu masa ketika tak ada sedikit pun pertolongan yang dapat kita harap kecuali pertolongan Allah Ta'ala.
Cintai mereka dengan pengharapan agar tak sekedar bersama saat dunia, lebih dari itu dapat berkumpul bersama di surga.
Cintai mereka seraya berusaha mengantarkan mereka meraih kejayaan, bukan hanya untuk kariernya di dunia yang sesaat.
Lebih dari itu untuk kejayaannya di masa yang jauh lebih panjang.

Masa yang tak bertepi.

(Mohammad Fauzil Adhim)