Senin, 17 November 2014

Sejarah Kaila 38

KaBAR 38 Kemarin :
Sedikit Melirik Ke Belakang Untuk Banyak Mencintai Ke Depan

Orang-orang yang terlibat aktif dalam dunia dakwah banyak yang mengatakan bahwa dakwah sekolah seolah-olah mengalami “kelesuan”. Padahal proses regenerasi dan dinamisasi dalam dakwah sekolah tak pernah berhenti. Sir Muhammad Iqbal pernah berkata, “sekali lagi kita mesti memandang masa lalu karena kita mesti berpikir lagi” Untuk itu mari sejenak menatap sekilas ke belakang untuk kemajuan ke depan.

Embrio itu bernama IRHAS

Titik awal pembentukan sebuah forum alumni ROHIS 38 adalah semangat membina di SMU sedang tinggi-tingginya pada tahun 1993, karena waktu itu adalah zaman transisi. Angkatan itu adalah awal angkatan lepasnya pengaruh DI (Darul Islam) dari ROHIS 38. Angkatan 1993 adalah angkatan yang benar-benar murni dibina dengan sistem daurah halaqah Tarbiyah.
Maka, Bang Wawan R.(ROHIS 38 angkatan 1993) dan saudara-saudari seangkatannya membentuk sebuah forum bernama Ikatan Remaja Harasul Islam disingkat IRHAS. Kenapa IRHAS ? Alasannya waktu itu dengan nama ikatan diharapkan lebih mengikat dan juga terikat dengan 38 sehingga dicoba membuat nama seperti ikatan remaja Masjid/ Musholla.

Akhirnya Menjadi KaBAR 38

Saat itu, Struktur IRHAS  masih sangat sederhana, hanya ada Ketua, Sekretaris, Bendahara dan Divisi Pembinaan. Program yang dijalankan juga cuma sedikit. Periode IRHAS berlangsung 1993-1995. Setelah dua tahun perjalanan, IRHAS ditetapkan harus lebih profesional tidak lagi seperti remaja masjid. Akhirnya, IRHAS dibubarkan dan menjadi KaBAR (Keluarga Besar Alumni ROHIS 38) yang diketuai oleh Bang Slamet. KaBAR 38 mempunyai AD/ART dan punya rencana ke depan yang sangat besar bahwa KaBAR 38 haruslah menjadi yayasan dan itu ditetapkan maksimal tiga periode setelah KaBAR 38 terbentuk.

Setelah Sejarah
“Human thought can be understood only by examining its history”
(Lev Semyonovich Vygotsky)

Sebuah organisasi sebenarnya adalah seorang manusia dengan kekhasannya masing-masing. Begitu juga dengan KaBAR 38 adalah manusia yang bisa kita pelajari kekhasannya. Anggota ROHIS 38 dahulu ternyata adalah orang-orang luar biasa. Kita telusuri satu-satu kekhasannnya. Pertama, generasi ghuroba. Pengurus ROHIS dan bukan ROHIS sangat terlihat sekali perbedaannya. Para pengurus ROHIS saat bulan Ramadhan ketika seisi kelas dan teman-temannya bercanda atau memainkan gitar atau menghabiskan waktu dengan kurang bermanfaat maka pengurus ROHIS mencoba mengajak mereka ke Musholla untuk tilawah atau sholat sunnah. Kedua, generasi prestasi. Pengurus ROHIS dikenal sebagai siswa-siswi berprestasi. Ketiga, generasi aktifis. Tentu saja pengurus ROHIS dikenal sebagai siswa-siswi yang aktif tetapi bayangkan dahulu mereka tidak hanya ROHIS tetapi juga menjadi OSIS dan memegang kebijakan peraturan siswa yang bisa mengantarkan sekolah dan ruangan OSIS ke bi’ah(kondisi) Islam yang kondusif.

Tentang Dakwah Fardiyah

Dakwah Fardiyah merupakan konsep wajib bagi pengurus ROHIS dan pengurus KaBAR 38 dahulu. Dulu satu orang kita harus kenal tiga orang baru. Contoh : pengurus KaBAR 38 datang ke sekolah dan bertemu dengan siswa/i yang belum dikenalnya maka pengurus itu harus berkenal dengan siswa/i tersebut entah dia anak ROHIS atau bukan. Terus ditempel dan akhirnya dipegang/dibina. Kalau tidak sanggup untuk membinanya maka harus dikenalkan atau diserahkan kepada pengurus KaBAR 38 yang lain.

Tentang Ukhuwah

Empati, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah seseorang mampu memahami perasaan dan pikiran orang lain. Empati didapatkan dari pemahaman dan pengertian antar pengurus KaBAR 38, memang ada yang bekerja, ada yang kuliah, ada yang menikah tetapi masing-masing menjalankan fungsi dan perannya di KaBAR 38 tidak menyerahkan tanggung jawab begitu saja ke orang lain.

Seharusnya Menjalankan Grand Design

Tanggal 4 November 2006 dibuat sebuah Grand Design (desain besar) KaBAR 38. Sebuah konsep besar tentang Dakwah Sekolah 38 namun apa daya, konsep besar itu hanya berlangsung satu tahun mirip-mirip dengan gejala banyak organisasi yang tidak melanjutkan apa-apa yang sudah baik sebelumnya tetapi enggan diteruskan sesuatu yang sudah baik tersebut. Ini memang dilema, di satu sisi harus membuat inovasi tetapi di sisi lain harus meneruskan warisan yang bisa jadi usang dan bisa jadi memang harus dilakukan secara kontunuitas.

Lalu kemudian...?

Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk sekadar nostalgia biasa tentang perjuangan, bukan pula ditujukan untuk hanya mengingat sebuah cerita masa lalu apalagi hanya dibaca saja. Hal-hal tersebut di atas adalah sebuah sajian luar biasa jika kita mengkontempelasinya lebih lanjut. Karena kehidupan adalah tentang tantangan. Karena bisa jadi tulisan ini berbicara sebagai aktivis dakwah yang mengalami kondisi yang kental, sementara era sekarang sudah berubah, era 2.0 dimana Facebook, Twitter dan Skype menjadi teman setia para manusia. Keterbukaan, kompleksitas, pluralitas yang makin besar harus disikapi djuga dengan metode dan cara yang khusus. Tulisan ini dibuat agar semua entitas KaBAR 38, khususnya para penerus dakwah di KaBAR 38 bisa mengetahui hal tentang KaBAR. Semoga tulisan singkat ini bermanfaat minimal tidak merugikan.
Wallahu’alam bish showab.

Johan Rio Pamungkas-Alumni ROHIS SMA 38 Angkatan 2006, Staff Departemen Pemberdayaan Alumni (BERANI) Keluarga Besar Alumni ROHIS (KABAR 38)

Sumber:
1.Buletin An-Nahl,XIX, Oktober 2004
2.Buletin KaBAr 38,bulan Agustus 2010
3.Wawancara dengan Bapak Suhendri angkatan 1998
4.Wawancara dengan Bapak Abid angkatan 1995
5.Javid Nammah,Muhammad Iqbal
6.Metodologi Sejarah,Lev Semyonovich Vygotsky

Tidak ada komentar:

Posting Komentar