Senin, 08 September 2014

Repost, Cukup Letakkan Gelasnya

Buat mereka yg kehilangan semangat hidup...

Cukup Letakkan Gelasnya


Seorang dosen memulai kuliah dengan memegang sebuah gelas berisi air, “kira-kira berapa berat gelas ini” Tanya nya pada para mahasiswa sambil mengangkat gelas tersebut pada posisi agak tinggi hingga seluruh mahasiswa dalam ruangan bisa melihatnya.

“50 gram..100 gram..150 gram..entahlah” jawab seorang mahasiswa
“well, kita takkan tahu jika tak menimbang nya” jawab sang dosen diiringi tawa kecil para mahasiswa
“pertanyaan nya adalah apa yang akan terjadi kalau saya mengangkat gelas ini selama 3 menit?” lanjutnya
“tidak akan terjadi apa-apa” kali ini jawaban seorang mahasiswa terdengar sangat meyakinkan
Dosen tersebut masih melanjutkan “kalau saya mengangkatnya selama sejam”
“wah..tangan anda akan keram prof” jawab si mahasiswa
“bagaimana kalau aku mengangkatnya seharian?”Tanya sang dosen belum puas
“entahlah, mungkin tangan anda akan mati rasa, beberapa otot akan terluka mungkin juga lumpuh. Dan yang jelas anda harus dibawa kerumah sakit ” seisi ruangan tertawa
“betul sekali, lantas apakah berat gelas ini akan berubah?”
“tidak prof”
“lalu apa yang harus saya lakukan supaya hal-hal buruk diatas tak perlu terjadi?”sang dosen terus bertanya
“anda tak boleh lupa untuk meletakkan gelasnya”
“persis, jangan mengangkat gelasnya terlalu lama”

Masalah hidup layaknya gelas tadi, semakin lama kita bawa, semakin lama kita akan terbebani, semakin menderita pula kita pada akhirnya. Bobot masalah takkan berubah sedikitpun hanya kita begitu lama dan dalam memikirkan nya. Benar bahwa setiap masalah memang harus difikirkan untuk dicari solusinya, tapi yang terpenting adalah bagaimana kita mempercayakan semua pada Allah, bahwa ditanganNya lah segala kuasa. Dia yang mengatur alam semesta, menjaga keseimbangan bumi, sangat mustahil jika Dia lupa memberi kita jalan keluar. 

“Dialah yang telah menurunkan keterangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka ( yang telah ada ). Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana” (Qs. Al Fath : 4)

Ketenangan hati adalak bukti kuatnya iman, sebaliknya kita harus hati-hati saat dilanda terlalu banyak kegelisahan, seolah masalah kita sangat besar, hingga merasa sebagai manusia paling menderita. Karena bisa jadi saat itu iman kita berada di titik nadir hingga syaithan leluasa menggoda.

Ps. Hidup lah dengan semangat pemburu syurga, niscaya takkan ada masalah yang terlalu berat terasa :)

*Diterjemahkan dari Islamic Thinking, dengan berbagai penyesuaian*
 

Kamis, 28 Agustus 2014

Memaknai Tilawah Kita Selama Ini

Bukan hanya sekedar kholas 
Atau selesai tilawah 10 lembar

BUKAN SEKEDAR ITU...

Saat diri gak yakin bisa tilawah 1 juz sehari di tengah kesibukqn yang padat, dan ternyata bisa...
Ada rasa aneh dalam diri..

Saat mata melirik terjemahan salah satu ayat...dan muka ini memerah..karena seakan ayat itu menyindir kita...

Apa rasa di hatimu ketika mengawali hari dg menyesaikan 1 juz? 

Pastinya bisa pules tidur dg senyum-senyum karena ada rasa bahagia bisa kholas 

Tidakkah terpikir jika lantunan tilawah kita yang gak seberapa bagus dan entah tepat atau tidak tajwidnya, ternyata membuka lebar Barokah-Nya...menerangi kubur kita kelak..

Membuat damai hati yg ada di dalam rumah... membuat rumah terasa nyaman..

Bagaimana seandainya suami atau istrimu merasa kembali jatuh cinta karena hatinya tergetar saat lantunan ayat- ayat suci keluar dari mulutmu...

Apa jadinya jika anak-anakmu tiap hari mendengar ayah dan ibunya bertilawah...melantunkan ayat-ayat Allah..

Bahkan tidak terpikir kalau huruf demi huruf dihitung Allah sebagai point yang tak satu pun terlewat untuk dicatat...

Ini Bukan sekedar Kholas, tapi lebiiih dari itu...
Ini tentang kehidupan
kini dan nanti..
Dunia dan akhirat..
Cintai Qur'an..! maka akan datang cinta sejati.
QUR'AN DI HATIM

copas #ODOJ523 keep istiqomah Ukhti fillah, aku tau jalan ini memang terjal dan berbatu tapi aku tau kalian sanggup melewatinya

Selasa, 12 Agustus 2014

Reshare : Perlunya Ilmu (kisah penebang kayu)

Kisah Si Penebang Pohon

Alkisah, seorangpedagang kayu menerima lamaran seorang pekerjauntuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerjayang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerjasebaik mungkin.

Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.

Hari pertamabekerja, diaberhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu”.

Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga,dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku,bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?” “Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu, saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga”. Kata si penebang.

“Nah, disinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisamenebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenagayang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal.

Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih,si penebang berlalu dari hadapan majikannyauntuk mulai mengasah kapak.

Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual.Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru !

Jumat, 08 Agustus 2014

Ramadhan bukan Akhir Perjalan

Ramadhan bukan akhir dari perjalanan kita.
Kemana perginya komitmen kita, kemana perginya semangat kita
Ramadhan begitu berlari-lari tanpa kenal lelah namun kenapa sekarang bel berlari pun sepertinya lelah selalu membayangi.

Ramadhan bukan akhir dari perjalanan kita.
Klo berakhirnya Ramadhan diganti dengan bulan syawal, yaitu iedul fitri seharusnya kita tetap dalam fitrah kita sebagai muslim.
Apa sajakah janji yang telah kita buat sebagai seorang muslim?

Ramadhan bukan akhir dari perjalanan kita.
Apa yang kita harapkan sesungguhnya dari Ramadhan? Sekedar penghargaan karena aku lebih dari dia atau apa..

entahlah aku tak mengerti, yang ku mengerti saat ini aku sedang kecewa dengan sekitar dan diriku
begitu cepatnya semangat ini datang dan pergi

memang yang ku tau semangat itu fluktuatif (naik turun), agar kita semakin mendekatkan diri kepada Allah, agar kita tidak sombong riya ujub dengan setiap apa yang kita lakukan, agar kita selalu sadar bahwa ada yang Maha segalanya. bukan bukan kita pastinya hanya Allah pemilik semesta

Semangat dengan 11 bulan berikutnya #afterRamadhan semoga tetap istiqomah dengan keIslamanmu, semoga semakin bermanfaat bagi orang lain, apabila terjadi keFuturan dalam diri semoga tidak terlalu jauh.. Ya Allah aku berlindung padaMu dari rasa sombong, malas, kikir, hasud, hasad, ingin dipuji... aamiin

Sabtu, 19 Juli 2014

Biarkan aku cicil untuk bapak dan ibu

Mata ini rasanya panas, hati ini bergetar. Sedih bercampur haru, saat melihat mahkota itu dipasangkan kepada ayah dan ibunya. Sebuah mahkota akhirat, mahkota penghargaan.Walau yang kami saksikan hari ini hanya simbol saja.
Ya Allah kapan aku bisa memberi ibu dan bapak hal yang sama? Mahkota yang terbuat dari cahaya, mahkota yang dijanjikan Allah untuk para penghafal Al-quran di alam akhirat, alam nan kekal. Aku iri ya Allah.
Menghafal sejatinya memang tidak mudah, tetapi juga bukan hal yang tidak mungkin.
"Dan telah Aku mudahkan Al-quran untuk dihafal dan dipelajari."
Ya Allah aku pingin jadi hafizhah. Aamiin. Tahun depan insyaAllah hafalanku lebih baik lagi. Aamiin. Biarkan aku cicil mahkota untuk bapak dan ibu. Walau hari ini baru menamatkan level tahsinku, aku yakin aku bisa, bismillah.
@Sudut stasiun depok baru, setelah wisuda utsmani 21 Ramadhan 1435 H

Senin, 14 Juli 2014

apa ini?

kurang kerjaan di kantor membuat iseng untuk buka blog dan langsung sakit mata >.<
ternyata hasil edit blog terakhir kali lewat PC buat blog saya susah dibaca. niatnya sih pengen buat keren kayak orang-orang yang tulisan di blognya udah pada bagus dan banyak eh ternyata. saya yang punya aja susah baca. yeay, lets change for new font. semoga lebih bermanfaat.

Jumat, 06 Juni 2014

JIKA NANTI JADI IBU

Tausyiah ODOJ 2468

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, Ketahuilah bahwa telah lama umat menantikan ibu yang mampu melahirkan pahlawan seperti Khalid bin Walid. Agar kaulah yang mampu menjawab pertanyaan Anis Matta dalam Mencari Pahlawan Indonesia: “Ataukah tak lagi ada
wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan?
Seperti wanita-wanita Arab yang tak lagi mampu
melahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid?”

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah seperti Asma’ binti Abu Bakar yang menjadi inspirasi dan
mengobarkan motivasi anaknya untuk terus berjuang melawan kezaliman. “Isy kariman au mut syahiidan!. (Hiduplah mulia, atau mati syahid!),” kata Asma’ kepada
Abdullah bin Zubair. Maka Ibnu Zubair pun terus bertahan dari gempuran Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi, ia kokoh mempertahankan keimanan dan kemuliaan tanpa mau tunduk kepada kezaliman. Hingga akhirnya Ibnu Zubair syahid. Namanya abadi dalam sejarah syuhada’ dan kata- kata Asma’ abadi hingga kini.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah seperti Nuwair binti Malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya. Saat itu sang anak masih remaja. Usianya
baru 13 tahun. Ia datang membawa pedang yang
panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang
badar. Rasulullah tidak mengabulkan keinginan remaja itu. Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih. Namun sang
ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada
Islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang
lain. Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah karena kecerdasannya,
kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an. Beberapa
tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu. Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini: Zaid bin Tsabit.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah. Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid
dan mencintai ilmu. Kelak, ia tumbuh menjadi ulama
hadits dan imam Madzhab.
Ia tidak lain adalah Imam
Ahmad.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya. Seperti Ummu Habibah. Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya. ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya: “Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan
Rasul-Mu. Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya
Allah, permudahlah urusannya. Peliharalah
keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, amin!”. Doa-doa itu tidak sia-
sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya: Imam Syafi’i.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai
cita-cita. Seperti ibunya Abdurrahman. Sejak kecil ia
menanamkan cita-cita ke
dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram,
dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai
cita-cita itu. “Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram…”,
katanya memotivasi sang anak. “Wahai Abdurrahman,
sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam masjidil
haram…”, sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan. Hingga akhirnya Abdurrahman benar-benar menjadi imam
masjidil Haram dan ulama dunia yang disegani. Kita pasti sering mendengar murattalnya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama
Abdurrahman As-Sudais.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah orang yang pertama kali yakin bahwa anakmu pasti sukses.
Dan kau menanamkan keyakinan yang sama pada anakmu. Seperti ibunya Zewail yang sejak anaknya kecil telah menuliskan “Kamar DR. Zewail” di pintu kamar anak itu. Ia menanamkan kesadaran sekaligus kepercayaan diri. Diikuti keterampilan mendidik dan membesarkan buah hati, jadilah Ahmad Zewail seorang doktor. Bukan hanya doktor,
bahkan doktor terkemuka di dunia. Dialah doktor Muslim
penerima Nobel bidang Kimia tahun 1999.

��Sumber : Sofia Laksmi El Hubb��