Kamis, 26 Desember 2013

Introspeksi diri

Masih teringat jelas, yaa kejadiannya baru ak alami kemarin.
Seperti biasa klo hari libur itu sebetulnya suka dirumah bisa istirahat tapi terkadang jadi mikir klo kebanyakan dirumah jadi gak priduktif. Kenapa, soalnya klo dirumah bingung mau ngapain terus malah nonton tv bingung lagi mau ngapain terus tidur. Nah terkadang karena gak jelas sebetulnya gak ada temen yang memotivasi dirumah itu jadi kebanyakan mudhorotnya.
Kemarin akhirnya seharian diluar rumah, rapat belanja investasi (jilbab) dan main ke RQ depok.
Terkadang memang terlena dan ini semua memang kesalahan pribadi yang belum tegas pada diri, sampailah malam diluar rumah.

Sebelum sampai rumah ya kok tiba2 dapet 'line' yaa menurutku si nyebelin.. Emang mudah nasehatin tapi yang ak perlukan bukan sekedar nasehat tapi juga contoh yang nyata.. Sempet ngotot2an juga sii ngerasa gak salah dan tetep dgn argumen pribadi sampai akhirnya diam males untuk respon lagi.

Terus nemu deh tulisan ini, yang sesuai sama yang ak alami:

Ibu memang bukan aktivis
Posted by Andy Sukma Lubis on December 23, 2013 at 10:32pm

Orang bilang anakku seorang aktifis. Kata mereka namanya tersohor di kampusnya sana. Orang bilang anakku seorang aktivis. Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat. Orang bilang anakku seorang aktivis. Tapi bolehkah aku sampaikan padamu nak? Ibu bilang engkau hanya seorang putra kecil ibu yang lugu.

Anakku, sejak mereka bilang engkau seorang aktivis, ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang aktivis. Dengan segala kesibukanmu, ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat. Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia nak?

Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak. Tanpa pernah ibu berfikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia…

Anakku, kita memang berada di satu atap nak, di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini. Tapi kini di manakah rumahmu nak? ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini. Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu di rumah, dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu. Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut.

Mungkin tawamu telah habis hari ini, tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu.

Ah, lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti, bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu. Atau jangankan untuk tersenyum, sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja, katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal, andai kau tahu nak, ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini, memastikan engkau baik-baik saja, memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu.

Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau nak. Tapi bukankah aku ini ibumu, yang 9 bulan waktumu engkau habiskan di dalam rahimku.

Anakku, ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu, engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu. Engkau nampak amat peduli dengan semua itu, ibu bangga padamu.

Namun, sebagian hati ibu mulai bertanya nak, kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu? Kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu nak? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu nak?

Anakku, ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu. Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu. Memang nak, menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat, tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan. Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak? Bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga nak?

Anakku, ibu mencoba membuka buku agendamu. Buku agenda sang aktivis. Jadwalmu begitu padat nak, ada rapat di sana sini. Ada jadwal mengkaji, ada juga jadwal untuk bertemu dengan tokoh-tokoh penting. Ibu membuka lembar demi lembarnya. Di sana ada sekumpulan agendamu, ada sekumpulan mimpi dan harapanmu. Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya, masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada di sana.

Ternyata memang tak ada nak, tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini. Tak ada cita-cita untuk ibumu ini. Padahal nak, andai engkau tahu, sejak kau ada di rahim ibu, tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu, selain cita dan agenda untukmu, putra kecilku…

Kalau boleh ibu meminjam bahasa mereka, mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional. Boleh ibu bertanya nak, di mana profesionalitasmu untuk ibu? Di mana profesionalitasmu untuk keluarga? Di mana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat.

Ah, waktumu terlalu mahal nak. Sampai-sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu. Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun pertemuan dengan orang tercinta, ibu, ayah, kakak dan adik. Akhirnya tak mundur sedetik tak maju sedetik. Hingga saat itu datang, jangan sampai yang tersisa hanyalah rasa sesal. Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan. Tentang rasa rindu akan kebersamaan yang terlambat teruntai…

Untuk mereka yang kasih sayangnya tak akan pernah putus. Untuk mereka sang penopang semangat juang ini. Saksikanlah, bahwa tak ada yang lebih berarti dari ridha seorang Ibu atas segala aktivitas yang kita lakukan. Karena tanpa ridha dari Ibu, mustahil tuk memperoleh ridha-Nya.

Sedikit uraian di pagi hari ini, dirangkum dari coretan inspirasi Via Novia yang ditulis pada group “Whatsapp for Learning Islamic Economy”. Salah satu group WA yang di dalamnya di isi oleh sahabat-sahabat penuh ilmu yang bermanfaat. Sungguh teramat sayang untuk melewatkan berbagi cerita mengenai inspirasi tentang sosok seorang IBU. Seperti halnya profesi pekerjaan yang kadang menuntut untuk berperan sebagai “bang Toyib”, cerita di atas menyadarkan mengenai arti penting dalam memandang sosok seorang IBU.

Semoga bermanfaat dan salam sukesmulia,

@AndySukmaLubis

Cattn buat diri:
Opini orang lain ttg kita gak semuanya bener, dia hanya melihat dari sisi luar aja
Ambil yang bener buang yang gak
Introspeksi juga kenapa orang lain sampe bilang kayak gitu. Berarti antara niat dan yang kita kerjakan masih belum sesuai..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar