Aku tuliskan ini untuk mencurahkan apa yang mengganjal dihatiku, Untukmu (temanku) yang dekat namun kini terasa jauh,,
Aku tak tau apa yang ada dipikiranmu saat ini, yang aku tahu kau membiarkan hatimu dipenuhi dengan 'si dia' yang belum halal bagimu
Aku tak tau apa ini cemburu atas hubungamu dengannya atau pikiranku yang menolak atas apa yang kamu lakukan
Aku memang seharusnya merelakanmu pergi, tapi bukan seperti ini
Aku hanya bisa mengatakan caramu tidak tepat, tapi aku tak dapat berkata banyak untuk mencegahmu
Aku mencoba untuk mengirim pesan2 singkat yang dapat kau baca, namun sepertinya usahaku belum membuahkan hasil. Mungkin kali ini kesabaranku diuji oleh-Nya.
Saat kutau usahaku tak berhasil, mungkin Allah punya cara lain untuk membuatmu mengerti;
Aku tau diawal aku yang mendorongmu untuk menikah muda, tapi bagaimana pun niat yang baik tanpa diawali dengan cara yang benar (salah) akan menjadi MASALAH
Aku dengar kau menyatakan, "nikah itu gak semudah itu dan perlu biaya." tapi apa harus seperti ini?
Aku tau akupun belum memberi contoh terbaik padamu, tapi.. Aku mencoba yang aku bisa
Lalu sekarang apa yang harus kulakukan? berdiam diri disini? Aku rasa itu bukan solusi. Menasehati dirimu yang sedang dimabuk cinta pun bukan perkara yang mudah
Aku teringat cerita teman SD ku : "iya adekku si amri cerita, temen2nya lebih suka main sama gamebot dan dia dicuekin. Amri cuma bilang, temen aku lebih milih gamebot daripada temennya sendiri." ya beginilah inti dari curhatan adiknya temen saat itu, dulu gak terlalu respect dengan hal ini dan memilih sebagai pendengar yang baik. Tapi kini aku tau bahwa itu sakit *nunjuk dada. Haha
Klo aku cemburu karena dia temanku punya "si dia" yang lebih dia pedulikan, apa Allah juga cemburu saat kita menduakanNya?
Entah kenapa tadi malam aku ingin melanjutkan membaca buku 'Ketika Diam Menjadi Asing'. Allah seperti mengajakku berbicara. Aku memulai membaca dari sub bab "Mungkin juga Hanya Perasaan", disana tertulis :
"Kadangkala memutuskan sesuatu hanya dengan perasaan tanpa didukung kenyataan dapat membahayakan diri."| aku jadi bertanya pada diriku, apa yang kurasakan kini hanya sekedar perasaan atau memang sesuai kenyataan? Atau memang kenyataan tapi aku terlalu mendramatisir atau atau atau... Arrgh
Kenyataannya, ketakutan dan kecemasan adalah perasaan yang lebih merajalela daripada yang didasari oleh kebanyakan orang.
Secara psikologis, optimisme menjadi pintu pertama menuju penyelesaian masalah walaupun secara real masalah itu sendiri belum teratasi.
Yeay i got the answer.
Sepertinya aku memang harus mengkondisikan diriku terlebih dahulu, meredam segala rasa kecewa, ketakutan dan emosi untuk mengajak si dia.
"Jika tak bisa lepas dari sergapan kesangsian dan kecemasan dialam lepas pun tidak akan menemukan kebebasan."
Kesangsian dan kecemasan, kondisi psikis khas manusia ini, pada tingkat tertentu, secara subyektif, bisa membelenggu sang diri. Meskipun ia secara fisik ia bebas.
Kalau nanti sampai dibatas waktuku dengannya aku mungkin akan menjauh. Mungkin memang bukan aku yang digariskan untuk mengusahakan hal kebaikan ini padanya.
"Janganlah kalian bergaul dengan orang yang mengikuti hawa nafsu, dan jangan pula kalian berdebat dengan mereka, karena aku khawatir akan menjerumuskan kalian dalam kesesatan, atau mencampuradukkan perkara-perkara yang kalian ketahui."
(HR. Sunan Al-Daraimi)
(HR. Sunan Al-Daraimi)
Ku akhiri tulisan ini dengan do'a :
"Wahai tuhanku, aku adukan segala kelemahanku, kekuranganku, dan ketidak berdayaanku dihadapan manusia. Wahai Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Engkau adalah Tuhan kaum tertindas dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapa lagi Engkau campakkan aku? Apakah pada seseorang yang jauh melihatku dengan sinis, atau kepada musuhku yang Enfkau berikan keunggulan atasku? Bila kemurkaan -Mu bukan dusebabkan olehku, maka aku tidak khawatir, bahwa perlindunganMu melampaui segalanya. Aku berlindung dalam sinar kehadiranMu, yang menerangi segala kwgelapan, sinar yang mengatur segala urusan kehidupan dan hari kemudian. Bila ternyata murka-Mu itu ditujukan bagiku, atau kemaraham-Mu diturunkan padaku, maka tidak ada daya upaya melainkan hanya Engkau." (HR. Bukhari)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar