Jumat, 12 September 2014

Untukmu yang Kini Perlahan Menjauh

Aku tuliskan ini untuk mencurahkan apa yang mengganjal dihatiku, Untukmu (temanku) yang dekat namun kini terasa jauh,,

Aku tak tau apa yang ada dipikiranmu saat ini, yang aku tahu kau membiarkan hatimu dipenuhi dengan 'si dia' yang belum halal bagimu

Aku tak tau apa ini cemburu atas hubungamu dengannya atau pikiranku yang menolak atas apa yang kamu lakukan

Aku memang seharusnya merelakanmu pergi, tapi bukan seperti ini

Aku hanya bisa mengatakan caramu tidak tepat, tapi aku tak dapat berkata banyak untuk mencegahmu 

Aku mencoba untuk mengirim pesan2 singkat yang dapat kau baca, namun sepertinya usahaku belum membuahkan hasil. Mungkin kali ini kesabaranku diuji oleh-Nya.

Saat kutau usahaku tak berhasil, mungkin Allah punya cara lain untuk membuatmu mengerti;

Aku tau diawal aku yang mendorongmu untuk menikah muda, tapi bagaimana pun niat yang baik tanpa diawali dengan cara yang benar (salah) akan menjadi MASALAH

Aku dengar kau menyatakan, "nikah itu gak semudah itu dan perlu biaya." tapi apa harus seperti ini?

Aku tau akupun belum memberi contoh terbaik padamu, tapi.. Aku mencoba yang aku bisa

Lalu sekarang apa yang harus kulakukan? berdiam diri disini? Aku rasa itu bukan solusi. Menasehati dirimu yang sedang dimabuk cinta pun bukan perkara yang mudah


Aku teringat cerita teman SD ku : "iya adekku si amri cerita, temen2nya lebih suka main sama gamebot dan dia dicuekin. Amri cuma bilang, temen aku lebih milih gamebot daripada temennya sendiri." ya beginilah inti dari curhatan adiknya temen saat itu, dulu gak terlalu respect dengan hal ini dan memilih sebagai pendengar yang baik. Tapi kini aku tau bahwa itu sakit *nunjuk dada. Haha

Klo aku cemburu karena dia temanku punya "si dia" yang lebih dia pedulikan, apa Allah juga cemburu saat kita menduakanNya? 

Entah kenapa tadi malam aku ingin melanjutkan membaca buku 'Ketika Diam Menjadi Asing'. Allah seperti mengajakku berbicara. Aku memulai membaca dari sub bab "Mungkin juga Hanya Perasaan", disana tertulis : 

"Kadangkala memutuskan sesuatu hanya dengan perasaan tanpa didukung kenyataan dapat membahayakan diri."| aku jadi bertanya pada diriku, apa yang kurasakan kini hanya sekedar perasaan atau memang sesuai kenyataan? Atau memang kenyataan tapi aku terlalu mendramatisir atau atau atau... Arrgh 

Kenyataannya, ketakutan dan kecemasan adalah perasaan yang lebih merajalela daripada yang didasari oleh kebanyakan orang. 

Secara psikologis, optimisme menjadi pintu pertama menuju penyelesaian masalah walaupun secara real masalah itu sendiri belum teratasi. Yeay i got the answer. 

Sepertinya aku memang harus mengkondisikan diriku terlebih dahulu, meredam segala rasa kecewa, ketakutan dan emosi untuk mengajak si dia. 

"Jika tak bisa lepas dari sergapan kesangsian dan kecemasan dialam lepas pun tidak akan menemukan kebebasan." Kesangsian dan kecemasan, kondisi psikis khas manusia ini, pada tingkat tertentu, secara subyektif, bisa membelenggu sang diri. Meskipun ia secara fisik ia bebas. Kalau nanti sampai dibatas waktuku dengannya aku mungkin akan menjauh. Mungkin memang bukan aku yang digariskan untuk mengusahakan hal kebaikan ini padanya. 

"Janganlah kalian bergaul dengan orang yang mengikuti hawa nafsu, dan jangan pula kalian berdebat dengan mereka, karena aku khawatir akan menjerumuskan kalian dalam kesesatan, atau mencampuradukkan perkara-perkara yang kalian ketahui." 
(HR. Sunan Al-Daraimi) 


 Ku akhiri tulisan ini dengan do'a : 
"Wahai tuhanku, aku adukan segala kelemahanku, kekuranganku, dan ketidak berdayaanku dihadapan manusia. Wahai Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Engkau adalah Tuhan kaum tertindas dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapa lagi Engkau campakkan aku? Apakah pada seseorang yang jauh melihatku dengan sinis, atau kepada musuhku yang Enfkau berikan keunggulan atasku? Bila kemurkaan -Mu bukan dusebabkan olehku, maka aku tidak khawatir, bahwa perlindunganMu melampaui segalanya. Aku berlindung dalam sinar kehadiranMu, yang menerangi segala kwgelapan, sinar yang mengatur segala urusan kehidupan dan hari kemudian. Bila ternyata murka-Mu itu ditujukan bagiku, atau kemaraham-Mu diturunkan padaku, maka tidak ada daya upaya melainkan hanya Engkau." (HR. Bukhari)

Senin, 08 September 2014

Repost, Cukup Letakkan Gelasnya

Buat mereka yg kehilangan semangat hidup...

Cukup Letakkan Gelasnya


Seorang dosen memulai kuliah dengan memegang sebuah gelas berisi air, “kira-kira berapa berat gelas ini” Tanya nya pada para mahasiswa sambil mengangkat gelas tersebut pada posisi agak tinggi hingga seluruh mahasiswa dalam ruangan bisa melihatnya.

“50 gram..100 gram..150 gram..entahlah” jawab seorang mahasiswa
“well, kita takkan tahu jika tak menimbang nya” jawab sang dosen diiringi tawa kecil para mahasiswa
“pertanyaan nya adalah apa yang akan terjadi kalau saya mengangkat gelas ini selama 3 menit?” lanjutnya
“tidak akan terjadi apa-apa” kali ini jawaban seorang mahasiswa terdengar sangat meyakinkan
Dosen tersebut masih melanjutkan “kalau saya mengangkatnya selama sejam”
“wah..tangan anda akan keram prof” jawab si mahasiswa
“bagaimana kalau aku mengangkatnya seharian?”Tanya sang dosen belum puas
“entahlah, mungkin tangan anda akan mati rasa, beberapa otot akan terluka mungkin juga lumpuh. Dan yang jelas anda harus dibawa kerumah sakit ” seisi ruangan tertawa
“betul sekali, lantas apakah berat gelas ini akan berubah?”
“tidak prof”
“lalu apa yang harus saya lakukan supaya hal-hal buruk diatas tak perlu terjadi?”sang dosen terus bertanya
“anda tak boleh lupa untuk meletakkan gelasnya”
“persis, jangan mengangkat gelasnya terlalu lama”

Masalah hidup layaknya gelas tadi, semakin lama kita bawa, semakin lama kita akan terbebani, semakin menderita pula kita pada akhirnya. Bobot masalah takkan berubah sedikitpun hanya kita begitu lama dan dalam memikirkan nya. Benar bahwa setiap masalah memang harus difikirkan untuk dicari solusinya, tapi yang terpenting adalah bagaimana kita mempercayakan semua pada Allah, bahwa ditanganNya lah segala kuasa. Dia yang mengatur alam semesta, menjaga keseimbangan bumi, sangat mustahil jika Dia lupa memberi kita jalan keluar. 

“Dialah yang telah menurunkan keterangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka ( yang telah ada ). Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana” (Qs. Al Fath : 4)

Ketenangan hati adalak bukti kuatnya iman, sebaliknya kita harus hati-hati saat dilanda terlalu banyak kegelisahan, seolah masalah kita sangat besar, hingga merasa sebagai manusia paling menderita. Karena bisa jadi saat itu iman kita berada di titik nadir hingga syaithan leluasa menggoda.

Ps. Hidup lah dengan semangat pemburu syurga, niscaya takkan ada masalah yang terlalu berat terasa :)

*Diterjemahkan dari Islamic Thinking, dengan berbagai penyesuaian*
 

Kamis, 28 Agustus 2014

Memaknai Tilawah Kita Selama Ini

Bukan hanya sekedar kholas 
Atau selesai tilawah 10 lembar

BUKAN SEKEDAR ITU...

Saat diri gak yakin bisa tilawah 1 juz sehari di tengah kesibukqn yang padat, dan ternyata bisa...
Ada rasa aneh dalam diri..

Saat mata melirik terjemahan salah satu ayat...dan muka ini memerah..karena seakan ayat itu menyindir kita...

Apa rasa di hatimu ketika mengawali hari dg menyesaikan 1 juz? 

Pastinya bisa pules tidur dg senyum-senyum karena ada rasa bahagia bisa kholas 

Tidakkah terpikir jika lantunan tilawah kita yang gak seberapa bagus dan entah tepat atau tidak tajwidnya, ternyata membuka lebar Barokah-Nya...menerangi kubur kita kelak..

Membuat damai hati yg ada di dalam rumah... membuat rumah terasa nyaman..

Bagaimana seandainya suami atau istrimu merasa kembali jatuh cinta karena hatinya tergetar saat lantunan ayat- ayat suci keluar dari mulutmu...

Apa jadinya jika anak-anakmu tiap hari mendengar ayah dan ibunya bertilawah...melantunkan ayat-ayat Allah..

Bahkan tidak terpikir kalau huruf demi huruf dihitung Allah sebagai point yang tak satu pun terlewat untuk dicatat...

Ini Bukan sekedar Kholas, tapi lebiiih dari itu...
Ini tentang kehidupan
kini dan nanti..
Dunia dan akhirat..
Cintai Qur'an..! maka akan datang cinta sejati.
QUR'AN DI HATIM

copas #ODOJ523 keep istiqomah Ukhti fillah, aku tau jalan ini memang terjal dan berbatu tapi aku tau kalian sanggup melewatinya

Selasa, 12 Agustus 2014

Reshare : Perlunya Ilmu (kisah penebang kayu)

Kisah Si Penebang Pohon

Alkisah, seorangpedagang kayu menerima lamaran seorang pekerjauntuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerjayang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerjasebaik mungkin.

Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.

Hari pertamabekerja, diaberhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu”.

Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga,dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku,bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?” “Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu, saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga”. Kata si penebang.

“Nah, disinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisamenebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenagayang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal.

Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih,si penebang berlalu dari hadapan majikannyauntuk mulai mengasah kapak.

Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual.Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru !

Jumat, 08 Agustus 2014

Ramadhan bukan Akhir Perjalan

Ramadhan bukan akhir dari perjalanan kita.
Kemana perginya komitmen kita, kemana perginya semangat kita
Ramadhan begitu berlari-lari tanpa kenal lelah namun kenapa sekarang bel berlari pun sepertinya lelah selalu membayangi.

Ramadhan bukan akhir dari perjalanan kita.
Klo berakhirnya Ramadhan diganti dengan bulan syawal, yaitu iedul fitri seharusnya kita tetap dalam fitrah kita sebagai muslim.
Apa sajakah janji yang telah kita buat sebagai seorang muslim?

Ramadhan bukan akhir dari perjalanan kita.
Apa yang kita harapkan sesungguhnya dari Ramadhan? Sekedar penghargaan karena aku lebih dari dia atau apa..

entahlah aku tak mengerti, yang ku mengerti saat ini aku sedang kecewa dengan sekitar dan diriku
begitu cepatnya semangat ini datang dan pergi

memang yang ku tau semangat itu fluktuatif (naik turun), agar kita semakin mendekatkan diri kepada Allah, agar kita tidak sombong riya ujub dengan setiap apa yang kita lakukan, agar kita selalu sadar bahwa ada yang Maha segalanya. bukan bukan kita pastinya hanya Allah pemilik semesta

Semangat dengan 11 bulan berikutnya #afterRamadhan semoga tetap istiqomah dengan keIslamanmu, semoga semakin bermanfaat bagi orang lain, apabila terjadi keFuturan dalam diri semoga tidak terlalu jauh.. Ya Allah aku berlindung padaMu dari rasa sombong, malas, kikir, hasud, hasad, ingin dipuji... aamiin

Sabtu, 19 Juli 2014

Biarkan aku cicil untuk bapak dan ibu

Mata ini rasanya panas, hati ini bergetar. Sedih bercampur haru, saat melihat mahkota itu dipasangkan kepada ayah dan ibunya. Sebuah mahkota akhirat, mahkota penghargaan.Walau yang kami saksikan hari ini hanya simbol saja.
Ya Allah kapan aku bisa memberi ibu dan bapak hal yang sama? Mahkota yang terbuat dari cahaya, mahkota yang dijanjikan Allah untuk para penghafal Al-quran di alam akhirat, alam nan kekal. Aku iri ya Allah.
Menghafal sejatinya memang tidak mudah, tetapi juga bukan hal yang tidak mungkin.
"Dan telah Aku mudahkan Al-quran untuk dihafal dan dipelajari."
Ya Allah aku pingin jadi hafizhah. Aamiin. Tahun depan insyaAllah hafalanku lebih baik lagi. Aamiin. Biarkan aku cicil mahkota untuk bapak dan ibu. Walau hari ini baru menamatkan level tahsinku, aku yakin aku bisa, bismillah.
@Sudut stasiun depok baru, setelah wisuda utsmani 21 Ramadhan 1435 H

Senin, 14 Juli 2014

apa ini?

kurang kerjaan di kantor membuat iseng untuk buka blog dan langsung sakit mata >.<
ternyata hasil edit blog terakhir kali lewat PC buat blog saya susah dibaca. niatnya sih pengen buat keren kayak orang-orang yang tulisan di blognya udah pada bagus dan banyak eh ternyata. saya yang punya aja susah baca. yeay, lets change for new font. semoga lebih bermanfaat.