Minggu, 02 November 2014

Repost, Cintai Anakmu Untuk Selamanya

~Cintai Anakmu untuk Selamanya~

Pada saatnya anak-anak akan pergi, meninggalkan kita, sepi...

Mereka bertebaran di muka bumi untuk melaksanakan tugas hidupnya; berpencar, berjauhan.
Sebagian di antara mereka mungkin ada yang memilih untuk berkarya dan tinggal di dekat kita agar berkhidmat kepada kita.
Mereka merelakan terlepasnya sebagian kesempatan untuk meraih dunia karena ingin meraih kemuliaan akhirat dengan menemani dan melayani kita.

Tetapi pada saatnya, kita pun akan pergi meninggalkan mereka.
Entah kapan.
Pergi dan tak pernah kembali lagi ke dunia ini....

Sebagian di antara kematian adalah perpisahan yang sesungguhnya; berpisah dan tak pernah lagi berkumpul dalam kemesraan penuh cinta.
Orangtua dan anak hanya berjumpa di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala, saling menjadi musuh satu sama lain, saling menjatuhkan.
Anak-anak yang terjungkal ke dalam neraka itu tak mau menerima dirinya tercampakkan sehingga menuntut tanggung-jawab orangtua yang telah mengabaikan kewajibannya mengajarkan agama.

Adakah itu termasuk kita?
Alangkah besar kerugian di hari itu jika anak dan orangtua saling menuntut di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala.

Inilah hari ketika kita tak dapat dibela pengacara, dan para pengacara tak dapat membela diri mereka sendiri.
Lalu apakah yang sudah kita persiapkan untuk mengantarkan anak-anak pulang ke kampung akhirat?
Dan dunia ini adalah ladangnya...

Sebagian di antara kematian itu adalah perpisahan sesaat; amat panjang masa itu kita rasakan di dunia, tapi amat pendek bagi yang mati.
Mereka berpisah untuk kemudian dikumpulkan kembali oleh Allah Jalla wa 'Ala. Tingkatan amal mereka boleh jadi tak sebanding.
Tapi Allah Ta'ala saling susulkan di antara mereka kepada yang amalnya lebih tinggi.

Allah Ta'ala berfirman:

"والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء كل امرئ بما كسب رهين"

"Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya."

(QS. Ath-Thuur, 52: 21).

Diam-diam bertanya, adakah kita termasuk yang demikian ini?
Saling disusulkan kepada yang amalnya lebih tinggi.
Termasuk kitakah?

Adakah kita benar-benar mencintai anak kita?
Kita usap anak-anak kita saat mereka sakit.
Kita tangisi mereka saat terluka.
Tapi adakah kita juga khawatiri nasib mereka di akhirat?
Kita bersibuk menyiapkan masa depan mereka.
Bila perlu sampai letih badan kita.

Tapi adakah kita berlaku sama untuk "masa depan" mereka yang sesungguhnya di kampung akhirat?

Tengoklah sejenak anakmu.
Tataplah wajahnya. Adakah engkau relakan wajahnya tersulut api nereka hingga melepuh kulitnya?
Ingatlah sejenak ketika engkau merasa risau melihat mereka bertengkar dengan saudaranya.
Adakah engkau bayangkan ia bertengkar denganmu di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala karena lalai menanamkan tauhid dalam dirinya?

Ada hari yang pasti ketika tak ada pilihan untuk kembali.
Adakah ketika itu kita saling disusulkan ke dalam surga atau saling bertikai?

Maka, cintai anakmu untuk selamanya!
Bukan hanya untuk hidupnya di dunia.
Cintai mereka sepenuh hati untuk suatu masa ketika tak ada sedikit pun pertolongan yang dapat kita harap kecuali pertolongan Allah Ta'ala.
Cintai mereka dengan pengharapan agar tak sekedar bersama saat dunia, lebih dari itu dapat berkumpul bersama di surga.
Cintai mereka seraya berusaha mengantarkan mereka meraih kejayaan, bukan hanya untuk kariernya di dunia yang sesaat.
Lebih dari itu untuk kejayaannya di masa yang jauh lebih panjang.

Masa yang tak bertepi.

(Mohammad Fauzil Adhim)

Minggu, 12 Oktober 2014

Repost, Urgensi Tarbiyah Dzatiyah

URGENSI TARBIYAH DZATIYAH ( Pentingnya Tarbiyah Diri )

Tarbiyah Dzatiyah adalah sejumlah sarana tarbiyah (pembinaan) yang diberikan oleh seorang muslim atau muslimah kepada dirinya sendiri untuk membentuk kepribadian Islami yang sempurna dalam segala aspeknya, baik ruhiyah, fikriyah, maupun jasadiyah. Dengan demikian, secara singkat tarbiyah dzatiyah bisa diartikan sebagai tarbiyah mandiri.

Urgensi Tarbiyah Dzatiyah
Setidaknya ada 8 Urgensi tarbiyah dzatiyah pada zaman sekarang ini: (1) Menjaga diri mesti didahulukan daripada menjaga orang lain, (2) Jika Anda tidak mentarbiyah diri Anda, siapa yang mentarbiyah Anda?, (3) Hisab kelak bersifat individual, (4) Tarbiyah dzatiyah itu lebih mampu menghasilkan perubahan, (5) Tarbiyah dzatiyah adalah saran tsabat dan istiqamah, (6) Sarana dakwah yang paling kuat, (7) Cara yang benar dalam memperbaiki realitas yang ada, dan (8) Karena keistimewaan tarbiyah dzatiyah.

1. Menjaga diri mesti didahulukan daripada menjaga orang lain
Tarbiyah seorang muslim terhadap dirinya tidak lain adalah upaya melindunginya dar i siksa Allah ta'ala dan neraka-Nya. Tidak diragukan lagi, menjaga diri sendiri mesti lebih diutamakan daripada menjaga orang lain. Ini sama persis dengan apa yang dikerjakan seseorang jika kebakaran terjadi di rumahnya –semoga itu tidak terjadi-, atau di rumah orang lain, maka yang pertama kali ia pikirkan ialah menyelamatkan rumahnya dulu. Hakikat ini ditegaskan Allah ta'ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. (QS. At-Tahrim : 6)

Arti menjaga diri dari neraka, seperti dikatakan Ibnu Sa'di rahimahullah, ialah dengan mewajibkan diri mengerjakan perintah Allah ta'ala, menjauhi larangan-Nya, bertaubat dari apa saja yang dimurkai-Nya dan mendatangkan siksa. Inilah makna tarbiyah dzatiyah dan salah satu tujuannya.

2. Jika Anda tidak mentarbiyah diri Anda, siapa yang mentarbiyah Anda?
Siapa yang mentarbiyah seseorang saat ia berusia lima belas tahun, dua puluh tahun, tiga puluh tahun, atau lebih? Jika ia tidak mentarbiyah diri sendiri, siapa yang mentarbiyahnya? Atau jika tidak ada pihak lain yang mempengaruhinya? Sebab, kedua orang tuanya secara khusus, atau manusia secara umum berkeyakinan ia telah dewasa, lebih tahu apa yang lebih mendatangkan maslahat bagi dirinya, atau mereka sibuk dengan pekerjaan mereka, hingga tidak punya waktu untuk mengurusnya.

Walhasil, jika ia tidak mentarbiyah diri sendiri, ia kehilangan waktu-waktu ketaatan dan moment-moment kebaikan. Hari dan umur terus bergulir, sedang ia gagal mengetahui titik lemah dirinya dan ketidakberesannya. Akibatnya, ia rugi saat kematian menjemput. Allah ta'ala berfriman,

يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ

(Ingatlah) hari Allah mengumpulkan kalian pada hari pengumpulan (QS. At-Taghabun : 9)

3. Hisab kelak bersifat individual
Hisab pada hari kiamat oleh Allah ta'ala kepada hamba-hamba-Nya bersifat individual, bukan bersifat kolektif. Artinya, setiap orang kelak dimintai pertanggungjawaban tentang diri atau buruknya, kendati ia mengklaim orang lain menjadi penyebab kesesatan dan penyimpangannya. Kendati ada klaim seperti itu, mereka wajib dihisab bersama dirinya. Allah ta'ala berfirman,

وَكُلُّهُمْ آَتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا

Dan setiap mereka datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri (QS. Maryam : 95)

Allah ta'ala berfirman,

وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا * اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا

Dan setiap manusia telah Kami tetapkan amal perbuatannya di lehernya dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat kitab yang dijumpainya terbuka. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu. (QS. Al-Isra' : 13-14)

Disebutkan di hadits bahwa Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ ، لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ

Setiap orang dari kalian pasti diajak bicara Tuhannya, tanpa penerjemah antara dirinya dengan-Nya (Muttafaq alaih)

Karena itu, barangsiapa mentarbiyah dirinya, insya Allah hisabnya diringankan dan ia selamat dari siksa, dengan rahmat Allah ta'ala.

4. Tarbiyah dzatiyah itu lebih mampu menghasilkan perubahan
Setiap orang pasti memiliki aib, kekurangan, atau melakukan kelalaian dan maksiat, baik maksiat kecil atau dosa. Jika masalahnya seperti itu, ia perlu memperbaiki seluruh susu negatif dirinya sejak awal, sebelum sisi negatif tersebut membengkak. Dan, seseorang tidak dapat meluruskan kesalahan-kesalahannya atau memperbaiki aib-aibnya dengan sempurna dan permanen jika ia tidak melakukan upaya perbaikan dengan tarbiyah dzatiyah.

Ini karena ia lebih tahu diri sendiri dan rahasianya. Ia lebih tahu kekurangannya dan aib-aibnya sendiri. Jika ia menginginkan pembinaan dirinya, ia juga lebih mampu mengendalikan dirinya menuju manhaj tertentu, perilaku utama, dan gerakan yang bermanfaat.

5. Tarbiyah dzatiyah adalah saran tsabat dan istiqamah
Setelah bimbingan Allah ta'ala, tarbiyah dzatiyah adalah sarana pertama yang membuat muslim mampu tsabat (tegar) di atas jalan iman danpetunjuk, hingga akhir kehidupannya. Tarbiyah dzatiyah juga garis pertahanan terdepan dalam melawan beragam fitnah dan bujuk rayu, yang menyerang kaum muslimin dewasa ini dan membujuknya dengan deras untuk menyimpang, gugur (dari jalan dakwah), loyo, malas, merasa takut akan masa depan, dan putus asa dengan realitas masa kini.

Di sapek ini, perumpamaan tarbiyah dzatiyah seperti pohon, yang jika akar-akarnya menancap kuat di bumi, amak pohon tersebut tetap kokoh, kendati diterpa angin dan badai.

6. Sarana dakwah yang paling kuat
Esensinya, setiap muslim dan muslimah adalah dai ke jalan Allah ta'ala. Ia memperbaiki kondisi yang ada, mengajar, memberi taujih, dan mentarbiyah. Agar ia diterima manusia, baik sanak kerabatnya atau orang yang jauh darinya, dan punya kekuatan melakukan perbaikan dan perubahan di kehidupan mereka, ia perlu bekal kuat. Dan, cara efektif untuk mendakwahi mereka dan mendapatkan respon mereka ialah ia menjadi qudwah yang baik dan teladan yang istimewa dalam aspek iman, ilmu, dan akhlak. Qudwah tinggi dan pengaruh kuat tersebut tidak dapat dibentuk oleh sekian khutbah dan ceramah saja. Namun, dibentuk oleh tarbiyah dzatiyah yang benar.

7. Cara yang benar dalam memperbaiki realitas yang ada
Adakah diantara kaum muslimin yang tidak merasa prihatin dengan kondisi yang ada pada umat Islam, di berbagai aspek di kehidupan mereka, baik aspek keagamaan, ekonomi, politik, pers, sosial, atau aspek-aspek lainnya? Jawabnya, tentu tidak ada.

Tapi bagaimana kiat memperbaiki realitas pahit yang dialami umat kita sekarang? Apa langkah efektif untuk melakukan perbaikan? Dengan ringkas, langkah tersebut dimulai dengan tarbiyah dzatiyah, yang dilakukan setiap orang dengan dirinya, dengan maksimal, syamil, dan seimbang. Sebab, jika setiap individu baik, baik pula keluarga, biidznillah. Lalu, dengan sendirinya, masyarakat menjadi baik. Begitulah, pada akhirnya realitas umat menjadi baik secara total, sedikit demi sedikit.

8. Karena keistimewaan tarbiyah dzatiyah
Urgensi tarbiyah dzatiyah lainnya mudah diaplikasikan, sarana-sarananya banyak, dan selalu ada pada kaum muslimin di setiap waktu, kondisi, dan tempat. Ini berbeda dengan tarbiyah ammah yang punya waktu-waktu tertentu, atau tempat-tempat khusus. [

Jumat, 12 September 2014

Untukmu yang Kini Perlahan Menjauh

Aku tuliskan ini untuk mencurahkan apa yang mengganjal dihatiku, Untukmu (temanku) yang dekat namun kini terasa jauh,,

Aku tak tau apa yang ada dipikiranmu saat ini, yang aku tahu kau membiarkan hatimu dipenuhi dengan 'si dia' yang belum halal bagimu

Aku tak tau apa ini cemburu atas hubungamu dengannya atau pikiranku yang menolak atas apa yang kamu lakukan

Aku memang seharusnya merelakanmu pergi, tapi bukan seperti ini

Aku hanya bisa mengatakan caramu tidak tepat, tapi aku tak dapat berkata banyak untuk mencegahmu 

Aku mencoba untuk mengirim pesan2 singkat yang dapat kau baca, namun sepertinya usahaku belum membuahkan hasil. Mungkin kali ini kesabaranku diuji oleh-Nya.

Saat kutau usahaku tak berhasil, mungkin Allah punya cara lain untuk membuatmu mengerti;

Aku tau diawal aku yang mendorongmu untuk menikah muda, tapi bagaimana pun niat yang baik tanpa diawali dengan cara yang benar (salah) akan menjadi MASALAH

Aku dengar kau menyatakan, "nikah itu gak semudah itu dan perlu biaya." tapi apa harus seperti ini?

Aku tau akupun belum memberi contoh terbaik padamu, tapi.. Aku mencoba yang aku bisa

Lalu sekarang apa yang harus kulakukan? berdiam diri disini? Aku rasa itu bukan solusi. Menasehati dirimu yang sedang dimabuk cinta pun bukan perkara yang mudah


Aku teringat cerita teman SD ku : "iya adekku si amri cerita, temen2nya lebih suka main sama gamebot dan dia dicuekin. Amri cuma bilang, temen aku lebih milih gamebot daripada temennya sendiri." ya beginilah inti dari curhatan adiknya temen saat itu, dulu gak terlalu respect dengan hal ini dan memilih sebagai pendengar yang baik. Tapi kini aku tau bahwa itu sakit *nunjuk dada. Haha

Klo aku cemburu karena dia temanku punya "si dia" yang lebih dia pedulikan, apa Allah juga cemburu saat kita menduakanNya? 

Entah kenapa tadi malam aku ingin melanjutkan membaca buku 'Ketika Diam Menjadi Asing'. Allah seperti mengajakku berbicara. Aku memulai membaca dari sub bab "Mungkin juga Hanya Perasaan", disana tertulis : 

"Kadangkala memutuskan sesuatu hanya dengan perasaan tanpa didukung kenyataan dapat membahayakan diri."| aku jadi bertanya pada diriku, apa yang kurasakan kini hanya sekedar perasaan atau memang sesuai kenyataan? Atau memang kenyataan tapi aku terlalu mendramatisir atau atau atau... Arrgh 

Kenyataannya, ketakutan dan kecemasan adalah perasaan yang lebih merajalela daripada yang didasari oleh kebanyakan orang. 

Secara psikologis, optimisme menjadi pintu pertama menuju penyelesaian masalah walaupun secara real masalah itu sendiri belum teratasi. Yeay i got the answer. 

Sepertinya aku memang harus mengkondisikan diriku terlebih dahulu, meredam segala rasa kecewa, ketakutan dan emosi untuk mengajak si dia. 

"Jika tak bisa lepas dari sergapan kesangsian dan kecemasan dialam lepas pun tidak akan menemukan kebebasan." Kesangsian dan kecemasan, kondisi psikis khas manusia ini, pada tingkat tertentu, secara subyektif, bisa membelenggu sang diri. Meskipun ia secara fisik ia bebas. Kalau nanti sampai dibatas waktuku dengannya aku mungkin akan menjauh. Mungkin memang bukan aku yang digariskan untuk mengusahakan hal kebaikan ini padanya. 

"Janganlah kalian bergaul dengan orang yang mengikuti hawa nafsu, dan jangan pula kalian berdebat dengan mereka, karena aku khawatir akan menjerumuskan kalian dalam kesesatan, atau mencampuradukkan perkara-perkara yang kalian ketahui." 
(HR. Sunan Al-Daraimi) 


 Ku akhiri tulisan ini dengan do'a : 
"Wahai tuhanku, aku adukan segala kelemahanku, kekuranganku, dan ketidak berdayaanku dihadapan manusia. Wahai Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Engkau adalah Tuhan kaum tertindas dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapa lagi Engkau campakkan aku? Apakah pada seseorang yang jauh melihatku dengan sinis, atau kepada musuhku yang Enfkau berikan keunggulan atasku? Bila kemurkaan -Mu bukan dusebabkan olehku, maka aku tidak khawatir, bahwa perlindunganMu melampaui segalanya. Aku berlindung dalam sinar kehadiranMu, yang menerangi segala kwgelapan, sinar yang mengatur segala urusan kehidupan dan hari kemudian. Bila ternyata murka-Mu itu ditujukan bagiku, atau kemaraham-Mu diturunkan padaku, maka tidak ada daya upaya melainkan hanya Engkau." (HR. Bukhari)

Senin, 08 September 2014

Repost, Cukup Letakkan Gelasnya

Buat mereka yg kehilangan semangat hidup...

Cukup Letakkan Gelasnya


Seorang dosen memulai kuliah dengan memegang sebuah gelas berisi air, “kira-kira berapa berat gelas ini” Tanya nya pada para mahasiswa sambil mengangkat gelas tersebut pada posisi agak tinggi hingga seluruh mahasiswa dalam ruangan bisa melihatnya.

“50 gram..100 gram..150 gram..entahlah” jawab seorang mahasiswa
“well, kita takkan tahu jika tak menimbang nya” jawab sang dosen diiringi tawa kecil para mahasiswa
“pertanyaan nya adalah apa yang akan terjadi kalau saya mengangkat gelas ini selama 3 menit?” lanjutnya
“tidak akan terjadi apa-apa” kali ini jawaban seorang mahasiswa terdengar sangat meyakinkan
Dosen tersebut masih melanjutkan “kalau saya mengangkatnya selama sejam”
“wah..tangan anda akan keram prof” jawab si mahasiswa
“bagaimana kalau aku mengangkatnya seharian?”Tanya sang dosen belum puas
“entahlah, mungkin tangan anda akan mati rasa, beberapa otot akan terluka mungkin juga lumpuh. Dan yang jelas anda harus dibawa kerumah sakit ” seisi ruangan tertawa
“betul sekali, lantas apakah berat gelas ini akan berubah?”
“tidak prof”
“lalu apa yang harus saya lakukan supaya hal-hal buruk diatas tak perlu terjadi?”sang dosen terus bertanya
“anda tak boleh lupa untuk meletakkan gelasnya”
“persis, jangan mengangkat gelasnya terlalu lama”

Masalah hidup layaknya gelas tadi, semakin lama kita bawa, semakin lama kita akan terbebani, semakin menderita pula kita pada akhirnya. Bobot masalah takkan berubah sedikitpun hanya kita begitu lama dan dalam memikirkan nya. Benar bahwa setiap masalah memang harus difikirkan untuk dicari solusinya, tapi yang terpenting adalah bagaimana kita mempercayakan semua pada Allah, bahwa ditanganNya lah segala kuasa. Dia yang mengatur alam semesta, menjaga keseimbangan bumi, sangat mustahil jika Dia lupa memberi kita jalan keluar. 

“Dialah yang telah menurunkan keterangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka ( yang telah ada ). Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana” (Qs. Al Fath : 4)

Ketenangan hati adalak bukti kuatnya iman, sebaliknya kita harus hati-hati saat dilanda terlalu banyak kegelisahan, seolah masalah kita sangat besar, hingga merasa sebagai manusia paling menderita. Karena bisa jadi saat itu iman kita berada di titik nadir hingga syaithan leluasa menggoda.

Ps. Hidup lah dengan semangat pemburu syurga, niscaya takkan ada masalah yang terlalu berat terasa :)

*Diterjemahkan dari Islamic Thinking, dengan berbagai penyesuaian*
 

Kamis, 28 Agustus 2014

Memaknai Tilawah Kita Selama Ini

Bukan hanya sekedar kholas 
Atau selesai tilawah 10 lembar

BUKAN SEKEDAR ITU...

Saat diri gak yakin bisa tilawah 1 juz sehari di tengah kesibukqn yang padat, dan ternyata bisa...
Ada rasa aneh dalam diri..

Saat mata melirik terjemahan salah satu ayat...dan muka ini memerah..karena seakan ayat itu menyindir kita...

Apa rasa di hatimu ketika mengawali hari dg menyesaikan 1 juz? 

Pastinya bisa pules tidur dg senyum-senyum karena ada rasa bahagia bisa kholas 

Tidakkah terpikir jika lantunan tilawah kita yang gak seberapa bagus dan entah tepat atau tidak tajwidnya, ternyata membuka lebar Barokah-Nya...menerangi kubur kita kelak..

Membuat damai hati yg ada di dalam rumah... membuat rumah terasa nyaman..

Bagaimana seandainya suami atau istrimu merasa kembali jatuh cinta karena hatinya tergetar saat lantunan ayat- ayat suci keluar dari mulutmu...

Apa jadinya jika anak-anakmu tiap hari mendengar ayah dan ibunya bertilawah...melantunkan ayat-ayat Allah..

Bahkan tidak terpikir kalau huruf demi huruf dihitung Allah sebagai point yang tak satu pun terlewat untuk dicatat...

Ini Bukan sekedar Kholas, tapi lebiiih dari itu...
Ini tentang kehidupan
kini dan nanti..
Dunia dan akhirat..
Cintai Qur'an..! maka akan datang cinta sejati.
QUR'AN DI HATIM

copas #ODOJ523 keep istiqomah Ukhti fillah, aku tau jalan ini memang terjal dan berbatu tapi aku tau kalian sanggup melewatinya

Selasa, 12 Agustus 2014

Reshare : Perlunya Ilmu (kisah penebang kayu)

Kisah Si Penebang Pohon

Alkisah, seorangpedagang kayu menerima lamaran seorang pekerjauntuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerjayang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerjasebaik mungkin.

Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.

Hari pertamabekerja, diaberhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu”.

Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga,dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku,bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?” “Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu, saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga”. Kata si penebang.

“Nah, disinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisamenebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenagayang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal.

Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih,si penebang berlalu dari hadapan majikannyauntuk mulai mengasah kapak.

Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual.Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru !

Jumat, 08 Agustus 2014

Ramadhan bukan Akhir Perjalan

Ramadhan bukan akhir dari perjalanan kita.
Kemana perginya komitmen kita, kemana perginya semangat kita
Ramadhan begitu berlari-lari tanpa kenal lelah namun kenapa sekarang bel berlari pun sepertinya lelah selalu membayangi.

Ramadhan bukan akhir dari perjalanan kita.
Klo berakhirnya Ramadhan diganti dengan bulan syawal, yaitu iedul fitri seharusnya kita tetap dalam fitrah kita sebagai muslim.
Apa sajakah janji yang telah kita buat sebagai seorang muslim?

Ramadhan bukan akhir dari perjalanan kita.
Apa yang kita harapkan sesungguhnya dari Ramadhan? Sekedar penghargaan karena aku lebih dari dia atau apa..

entahlah aku tak mengerti, yang ku mengerti saat ini aku sedang kecewa dengan sekitar dan diriku
begitu cepatnya semangat ini datang dan pergi

memang yang ku tau semangat itu fluktuatif (naik turun), agar kita semakin mendekatkan diri kepada Allah, agar kita tidak sombong riya ujub dengan setiap apa yang kita lakukan, agar kita selalu sadar bahwa ada yang Maha segalanya. bukan bukan kita pastinya hanya Allah pemilik semesta

Semangat dengan 11 bulan berikutnya #afterRamadhan semoga tetap istiqomah dengan keIslamanmu, semoga semakin bermanfaat bagi orang lain, apabila terjadi keFuturan dalam diri semoga tidak terlalu jauh.. Ya Allah aku berlindung padaMu dari rasa sombong, malas, kikir, hasud, hasad, ingin dipuji... aamiin