Senin, 09 Maret 2015

Debu di Jagat Internet

By :  Endy Kurniawan

Jika Anda memulai bisnis saat ini, atau mulai terpikir untuk membangun kekuatan merek, dan memilih media digital, masih tersisakah ruang di jagat internet? Masih tersediakah celah di lebih dari 3 Milyar pengguna media sosial? Seberapa menarik produk Anda untuk dilirik 1,5 Milyar pengguna Facebook, 1 Milyar lebih pengguna Google, 300 juta pengguna Instagram, 280 juta pengguna Twitter, sekitar 30 juta pengguna Path, belum lagi Pinterest dan sekitar 1 Milyar website aktif di muka bumi? (sumber : internetlivestat.com, nymag.com, jeffbullas.com)

Mengapa kita membicarakan total jumlah pengguna media sosial dan internet seluruh dunia? Karena mustahil membagi pasar saat ini menggunakan batas geografis. Jadi tak lagi relevan menggunakan indikator dan batasan negara. Pedagang pompa air online di Indonesia melayani pasar Filipina. Orang Indonesia beli lukisan di Afrika Selatan. Pesanan tas etnis dari Mataram laku keras di Vancouver, Kanada, melalui medium online. Diulang pertanyaannya : apakah masih tersedia peluang?

Di media sosial, 63% pengikut & pengunjung kanal yang Anda sediakan adalah pengguna produk. Mereka ingin terus terhubung dengan produsennya. Kalau konstituen memilih Anda dalam sebuah pencalonan politik, mereka ingin terus ‘konek’ dan didengar aspirasinya. Artinya apa? Artinya (1) Basis pasar offline-nya harus terbentuk, (2) Ada integrasi antara upaya online dan offline marketing dan (3) Hadirlah di internet sebagai manusia yang berdialog, be a human.

Itu langkah untuk memperkuat connectivity. Menjadi partner yang sangat dekat dengan pelanggan sangat mungkin menggunakan teknologi. Ini yang sering orang lupakan. Sekali muncul dan pasar terbangun, customer retention tidak dilakukan. Lalu, jika baru mengawali dan ingin terlihat, langkah apa yang harus dilakukan? Ada langkah-langkah teknis supaya kita ‘terlihat’, SEO, buzzing, aktif di semua kanal, dan lainnya. Tapi dalam pengembangan produk dan bisnis, ada hal substantial yang harus kita lakukan. Dalam uraian pendek, inilah yang diperlukan :

1) Uniqueness. Artinya berbeda dan unik dalam model bisnis, dalam pemilihan produk, dalam layanan, dalam landing page, dalam konten, dalam berpromosi. Diferensiasi ini ilmu dasar dalam bisnis yang tak pernah berubah apapun platformnya.
2) Start locally. Hampir semua startup sukses karena berhasil menemukan potensi lokal yang kemudian dikomersialkan. Setelah basis konsumen kuat, baru dengan kekuatan finansial tambahan dan skala bisnis diperbesar, ia go global (Startup Istanbul, 2014)
3) Focus. Unit online marketing di dalam organisasi harus dibentuk. Diberi tugas yang jelas dan target yang spesifik sesuai awareness dan signification yang ingin diraih. Meski masih terus mencari bentuk bakunya, banyak organisasi saat ini sudah punya dedicated digital marketing director dan digital strategist. Bagaimana dengan organisasi Anda?

Minggu, 01 Maret 2015

SEINDAH-INDAH POLIGAMI ( Aku dan Tiga “Istriku”)

Oleh: Dr. Mawardi Muhammad Saleh, Ketua MUI Riau.

Ketika poligami menjadi sesuatu yang menakut kan, kami sudah menjalaninya dengan menyenangkan.

Aku dikaruniai 3 “istri” yang sangat mendukung perjuanganku.

Ketiga istriku saling bersinergi menghadirkan
surga di dunia ini menuju surga sebenarnya nanti.

Aku menikahi “istri” pertamaku pada saat usiaku masih sangat belia.

Aku jatuh hati pada pandangan pertama.

Tak perlu waktu lama untuk memproses pernikahanku. Istri pertamaku sangat sayang kepadaku, ia selalu menuntun dan membimbingku setiap aku ditimpa m asalah dalam hidup.

Aku tak akan pernah kehilangan cinta kepadanya.

Istri pertamaku-lah yang menunjukkan aku pada calon “istri” keduaku.

Aku banyak mengetahui dia dari istri pertamaku itu. Begitu banyak hal yang menarik yang ditunjukkan calon istri keduaku itu, maka tak perlu waktu lama, akupun segera menikahinya.

Aku begitu bersemangat bergairah hidup bersama keduanya. Tak berhenti sampai disini kebahagiaanku.

Kedua istriku itu membujukku untuk segera memperistri seorang akhwat shalihah yang aku sendiri belum pernah mengenal dia sebelumnya, kecuali dari selembar biodata dan sedikit informasi dari sahabat dan keluarganya.

Bahkan usiaku belum genap 22 tahun saat itu. Tapi karena aku sudah sangat percaya kepada kedua istriku itu, maka dengan mengucap bismillah aku menikahi istri ke tigaku. Tapi dibanding yang lainnya, istri ketiga ini paling Banyak Berkorban.

Demi kedua istriku sebelumnya, dia lebih banyak mengalah untuk memberiku waktu lebih banyak bersama mereka.

Dia sudah tahu bahwa aku menikahi istri pertama dan kedua atas dasar cinta, tapi aku menikahi istri ketigaku atas dasar cintaku pada kedua istri awalku itu.

Cinta itu baru tumbuh belakangan, setelah kutahu bahwa dia begitu cinta kepadaku.

Istri ketigaku pun sangat hormat, cinta dan sayang kepada dua istriku yg lbh awal.

“Istri” pertamaku bernama Ilmu, dia begitu bercahaya dihatiku.

“Istri” keduaku bernama Dakwah, ia begitu menginspirasi gerak kehidupanku.

“Dan istri ketigaku itulah istriku sebenarnya, yang rela menikah denganku atas bimbingan Ilmu dan Dakwah .

Semoga cinta ini kekal hingga ke surga. “Ya Allah, ini adalah pembagianku dalam hal-hal yang aku miliki. Maka janganlah Engkau mencelaku pada sesuatu yang tidak aku miliki.” (HR. Bukhari dalam kitab Fathul Baari Juz 9 hal. 224)

Repost : STOP MENGEJAR PROFIT !!!

BY : TOM MC IFLE
(Dalam Buku Profit is King)

Saya kutip percakapan menarik antara saya dan salah seorang klien:

"Pak, bapak pernah naksir perempuan, ngga?" tanya saya.

"Pernah dong" jawabnya.

"Ceritanya, bapak kejar habis-habisan, bapak nongkrong didepan rumahnya, telpon, kadang ketuk-ketuk rumah perempuan tersebut. Biasanya perempuan akan mendekat atau menjauh ?"

Saya lanjutkan dijawab spontan oleh klien saya , "kabur menjauhlah..."

"Kalau omzet dikejar-kejar apa mau sekonyong-konyong mendekati kita ?" tanya saya

"Ngga juga karena kita tidak fokus dengan penyebab omzet itu meningkat", jawab klien sang klien

"Verry good! Kalau begitu, aktifitas apa yang secara langsung atau tidak langsung akan meningkatkan omzet dan profit Anda ?"

"Bisa mengejar penjualan, coach ?" Jawab klien.

"Betul, anda akan fokus mengejar penjualan atau fokus kepada aktifitas yang bisa membuat penjualan lebih meningkat ?" tanya saya.

"Iya betul juga, pasti fokus dengan aktivitasnya..."jawabnya.

"Contohnya ?" tanya saya menggali.

"Seperti marketing, promosi, customer service (pelayanan pelanggan), membuat pelanggannya puas semua sampai mereka memberi rekomendasi kepada calon pelanggan lainnya,"jawab klien.

Menarik bukan ?

Banyak orang menginginkan kesuksesan, pelanggan yang banyak, profit berlimpah. Padahal semua itu merupakan efek. Mereka lupa akan cause-nya atau penyebabnya.

Mulailah mencintai CAUSE, bukan EFEK. Semakin Anda mencintai CAUSE maka EFEK akan setia mengikuti....

[Quotes]

Boleh jadi kamu tidak tahu dimana rizkimu, tetapi rizkimu tahu dimana dirimu. Jika ia ada di langit, Allah akan memerintahkannya untuk turun mencurahimu. Jika ia ada di bumi,  Allah akan menyuruhnya muncul untuk menjumpaimu. Dan jika ia berada di lautan, Allah akan menitahkannya timbul untuk menemuimu.
(Imam Abu Hamid Al Ghazali)

Senin, 02 Februari 2015

Quote

"Ada satu Musa dan satu Isa utk satu Firaun, satu Samiri, satu Judas, satu Herodes dan satu Pontius Pylatus. Hari ini, ratusan Judas, Samiri, dan Firaun berkeliaran menjual aset bangsa yg dilindungi konstitusi, yg bekerja sama dgn penadah dan penjarah asing. Dimana gembala bagi domba yg bercerai-berai dimangsa serigala?" (KH. Rahmat Abdullah, Asasiyat Tarbawi)

Sabtu, 31 Januari 2015

Super Murabbi, Super Husband, Super Kader

Oleh: Cahyadi Takariawan

Menjadi anggota DPRD Provinsi, kira-kira apa bayangan anda tentang sosok dirinya? Sibuk, sangat banyak urusan dan pekerjaan, sangat padat jadwal agenda harian. Saya kira seperti bayangan kita, dan memang senyatanya juga demikian. Anggota dewan provinsi tentu sangat padat kegiatan, waktunya habis untuk menunaikan amanah dan sering merasa kekurangan waktu untuk mengerjakan hal-hal lainnya. Maklum, sebagai wakil rakyat tentu ada sangat banyak hak harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.

Namun benarkah kesibukan menjadi anggota DPRD membuat seseorang kader tidak lagi memiliki waktu untuk hal-hal lain di luar tugas pokok dan fungsinya sebagai legislator? Karena terlalu sibuk di dewan dan sudah memiliki amanah berdakwah di dewan, sehingga mendapat permakluman untuk tidak melaksanakan beberapa tugas lainnya sebagai kader dakwah. Misalnya dimaklumi untuk tidak melakukan pembinaan tarbawiyah walau hanya satu kelompok binaan pun. Dimaklumi untuk tidak hadir tepat waktu dalam agenda rapat rutin atau dalam acara kaderisasi, karena kesibukan dewan.

Dimaklumi untuk tidak ikut mabit karena malam harinya sudah lelah setelah kerja kantor diteruskan kunjungan konstituen. Dimaklumi tidak hadir acara tatsqif karena padatnya agenda dewan. Dan sejumlah permakluman lainnya yang sangat banyak.

Benarkah memang sudah tidak memiliki waktu sama sekali?

Belajar Kepada Seorang Kader

Mari saya ajak anda semua untuk belajar kepada seorang sosok kader yang ---menurut ukuran saya--- luar biasa. Saya katakan luar biasa, karena saya tidak bisa memenuhi kualifikasi seperti dirinya. Ya, tidak bisa, dan tidak terbayang bagi saya untuk bisa bersikap serta berbuat seperti yang ia lakukan. Kader istimewa ini, tidak saya sebut namanya, sungguh banyak pelajaran bisa kita ambil darinya. Tentu saja sebagai manusia ia punya kekurangan, kelemahan dan kesalahan. Tapi kita belajar dari kelebihan dan keistimewaannya saja untuk memotivasi kita.

Ia adalah anggota DPRD di Provinsi DI Yogyakarta. Sudah tiga kali ia menjadi anggota dewan, dimulai sejak menjadi anggota DPRD Kabupaten, dan sekarang di Provinsi. Sebagaimana sosok anggota dewan yang sering digambarkan penuh kesibukan, demikian pula dirinya. Ia sangat sibuk dengan urusan menjadi wakil rakyat tingkat provinsi. Sehari-hari ia melaksanakan amanah DPRD Provinsi semaksimal tenaga dan pikiran yang bisa ia berikan.

Apa kelebihan sosok kader yang satu ini? Ingin tahu? Bener nih, ingin tahu atau ingin tahu banget? Aduh, diberi tau gak ya..... :)

Ah, sudahlah, saya beri tahu saja yaaa..... Ini kelebihan dan keistimewaan kader tersebut. Sangat banyak sih, tapi cukup saya sampaikan 5 dulu saja ya.....

1. Disiplin dan Tepat Waktu

Ia dikenal sebagai sosok kader yang sangat disiplin dan selalu tepat waktu dalam berbagai kegiatan. Bisa dikatakan, ia tidak pernah terlambat dalam semua aktiviktas yang harus dihadirinya. Baik acara dewan, acara partai, acara keluarga, dan bahkan acara kemasyarakatan. Jika ia terlambat, tentu ada kondisi yang memang tidak memungkinkannya untuk datang tepat waktu.

Semua teman dekatnya mengakui hal ini. Sulit bagi rata-rata kita untuk hadir tepat waktu dalam berbagai aktivitas. Namun kader yang satu ini sepertinya tidak memiliki kesulitan sebagaimana yang orang lain rasakan. Ia membuktikan selalu disiplin dan tepat waktu dalam semua kegiatan. Ayahnya yang polisi ikut andil dalam menciptakan karakter disiplin ini. Namun yang lebih lagi adalah sebuah taujih dari ustadz Hilmi Aminuddin agar kader selalu indibath, yang sangat membekas dalam jiwanya.

2. Banyak Tilawah Al Qur’an

Ia memanfaatkan waktu yang dimilikinya untuk banyak tilawah Al Qur’an. Dalam perjalanan di pesawat, atau kereta api, atau ketika rombongan dengan mobil, tidak pernah disia-siakan begitu saja. Ia selalu melewatkan waktu senggang dengan tilawah Al Qur’an. Rata-rata ia membaca 3 juz dalam sehari. Bahkan saat Ramadhan, ia bisa membaca 8 juz sehari.

Kebanyakan kita jika melakukan perjalanan dalam rombongan, cenderung menghabiskan waktu dengan bercanda dan mengobrol. Tidak demikian dengan dirinya. Ia selalu menghabiskan waktu perjalanan dengan tilawah Al Qur’an. Jika lelah, ia akan tidur di perjalanan tersebut. Demikian pula waktu senggang menunggu dimulainya rapat. Orang lain menunggu rapat sambil mengobrol, ia menunggu rapat sambil tilawah Al Qur’an.

3. Banyak Amanah Dakwah

Selain menjadi anggota DPRD Provinsi, ia juga memiliki lembaga pendidikan Islam sejak jenjang TK hingga SMA. Jumlah seluruh lembaga pendidikannya sekarang ini tercatat 47 yang tersebar di berbagai daerah di Provinsi tempat tinggalnya. Ia menjadi Ketua Dewan Pembina Yayasan yang menaungi sekolah-sekolah Islam tersebut. Sudah bisa dibayangkan betapa sibuk dirinya.

Ia juga menjadi pengurus partai politik di tingkat provinsi. Ia juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Sangat banyak amanah dakwah yang diembannya, selain di lembaga legislatif.

4. Hidup Happy dengan Tiga Istri

Dengan istri pertamanya, ia tidak dikaruniai anak hingga usia pernikahan sepuluh tahun. Terdorong ingin memiliki keturunan, ia berdiskusi dengan istri pertama untuk menikah lagi. Istri pertama bisa menerima, bahkan ikut terlibat dalam proses pernikahan kedua suaminya. Setelah menikah lagi, beberapa bulan kemudian ternyata kedua istrinya hamil. Namun istri kedua keguguran, sedangkan istri pertama melahirkan dengan cesar.

Sampai sekarang istri pertama memiliki 3 anak, semua dengan cesar, sehingga sudah tidak diperkenankan memiliki anak lagi. Sedangkan istri kedua belum dikruniai anak sampai sekitar enam tahun pernikahannya. Karena ingin memiliki anak lagi, ia bermusyawarah dengan dua istrinya untuk menikah yang ketiga kali. Kedua istrinya mengizinkan, bahkan kedua istrinya itulah yang melamarkan calon istri ketiga. Seluruh pernikahannya dilakukan dengan proses yang baik dan dengan legal formal melalui prosedur resmi pemerintahan.

Kini ia hidup bahagia dengan ketiga istrinya. Hari Rabu dan Jumat jatah di rumah istri pertama. Senin dan Kamis jatah di rumah istri kedua. Selasa dan Jumat jatah di rumah istri ketiga. Sedangkan hari Ahad digunakan untuk bersama-sama ketiga istrinya, atau sesuai kebutuhan yang ada. Setiap jam 06.00 pagi ia sudah tiba di rumah istri sesuai jatah giliran waktunya. Ketiga istrinya hidup rukun, bahkan biasa membuat acara mabit bertiga di rumah salah seorang dari mereka.

5. Memiliki 12 Kelompok Halaqah Tarbawiyah dan 1 Majelis Taklim Rutin Pekanan

Yang paling hebat adalah, ia memegang duabelas (12) kelompok halaqah tarbawiyah dari berbagai levelnya. Bahkan masih ditambah satu majelis taklim. Semua rutin pekanan. Jadi dalam satu pekan, ia mengisi rutin 13 forum atau 13 kelompok. Sangat produktif bukan? Di saat banyak kader tidak memegang kelompok binaan, kader yang pejabat publik dan memiliki tiga istri ini memiliki 12 kelompok binaan tarbiyah dan 1 kelompok majlis taklim. Semua rutin pekanan.

Bagaimana Dengan Kita?

Lalu bagaimana kita ini? Bukan anggota dewan, bukan pejabat publik, istri ‘hanya’ satu saja, amanah dakwah tidak seberapa, ternyata tilawah Al Qur’an hanya sedikit saja dan bahkan banyak di antara kita yang tidak membina kelompok tarbiyah ataupun majelis taklim. Lalu apa kesibukan kita selama ini?

Lalu apa kontribusi kita bagi perkembangan dakwah jika tidak terlibat dalam proses rekrutmen dan membina kelompok tarbiyah serta majelis taklim? Apa yang menghabiskan waktu kita selama ini? Apa yang menghilangkan kenikmatan kita dalam membina halaqah sehingga tidak melakukannya?

Bagaimana kita ini?

Murabbi Goblok

Oleh : Cahyadi Takariawan

Maafkan saya jika judul di atas tampak terlalu kasar dan vulgar. Kalimat itu terinspirasi oleh sebuah diskusi dengan kader-kader dakwah dari Kulonprogo, yang menyatakan bahwa saat ini perangkat tarbiyah sudah sangat canggih, namun justru terkesan menyulitkan dan tidak praktis. Berbeda dengan zaman dulu saat para murabbi belum mengenal berbagai sistem dan perangkat dalam manhaj tarbiyah, justru sangat PD membina dan menghasilkan kader handal. Mengapa sekarang justru banyak yang tidak PD membina, padahal perangkat sudah sangat lengkap?

Pada era sebelum tahun 2000, apalagi sebelum tahun 1990, para murabbi dengan sangat percaya diri melakukan rekrutmen dan melakukan pembinaan dengan berbekal sedikit materi tarbiyah. Daurah Murabbi pada masa itu hanya berisi transfer materi alias talaqi madah. Tidak menggunakan banyak perangkat yang canggih, sejak dari perangkat lunak berupa manhaj maupun perangkat keras seperti teknologi. Semua serba sederhana, serba terbatas dari segi fasilitas, namun ternyata sangat optimal dari segi hasil.

Waktu itu kita duduk melingkar di masjid atau pesantren, atau duduk di ruang tamu seorang kader yang disulap menjadi tempat daurah. Lesehan, dengan tikar yang sudah lapuk dan bolong di sana sini. Para muwajih menyampaikan talaqi madah secara ringkas, dengan menggunakan sarana papan tulis serta kapur putih untuk catat mencatat. Kemudian kita makan dengan nasi bungkus yang sangat sederhana, atau makan bersama dalam satu wadah besar. Suasana kebersamaan sangat kuat, dengan semangat yang juga sangat kuat.

Sepulang dari daurah, semua peserta langsung menyampaikan madah yang didapatkan kepada para mutarabi di kelompok-kelompok binaan. Sepulang dari daurah kita merasa semangat dan bisa meneruskan kepada binaan, seperti yang kita dapatkan dari muwajih di daurah murabbi.

Kita sekarang belajar “teknologi tarbiyah”, sejak dari visi, misi, tujuan, metodologi, sarana, evaluasi, promosi tarbawi, penugasan dan lain sebagainya. Sangat sistematis, lengkap dan utuh menyeluruh. Bahkan mendapatkan materi tentang micro-teaching, retorika, public speaking, dinamika kelompok, teamwork, dan materi penunjang lainnya. Sepertinya sudah sangat komplit dan utuh, tidak ada yang tidak tersentuh dan tersampaikan.

Kita daurah di ruang nyaman ber-AC, duduk di kursi, tidak lagi lesehan. Kita menggunakan LCD, dan semua madah boleh dicopy di flasdisk atau bahkan dikirim melalui email ke setiap peserta. Kita makan dengan menu yang lebih layak, tidak lagi nasi bungkus. Para peserta dari jauh datang dengan sarana pesawat serta tidur di hotel. Mereka juga membawa laptop, serta smartphone untuk kemudahan komunikasi. Sudah sangat mendukung fasilitas yang kita dapatkan. Namun ‘tiba-tiba’ kita dikejutkan dengan keluhan kesulitan merekrut dan membina......

Adakah Pelajaran Tarbiyah dari si Bob?

Belum lama Indonesia kehilangan salah seorang pengusaha nyentrik namun sukses, Bob Sadino. Kita mengenal “ajaran” Bob Sadino adalah tentang filosofi ‘goblok’. Dalam buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino”, Bob menyatakan bahwa orang sekolahan diajari tahu, sedangkan orang jalanan diajarkan bisa. Orang bisa, tentu berada beberapa langkah di depan orang yang hanya tahu. Lebih parah lagi, orang sekolahan biasanya hanya tahu dan belum tentu mengerti, sehingga dalam melangkah banyak ragu-ragu. Takut begini, takut begitu, karena terlalu banyak rambu.

Sementara itu, orang yang besar di jalanan hanya mengajarkan satu hal : lakukan saja! Tidak ada teori yang rumit dan pikiran yang negatif atau penuh kekhawatiran. Kata Bob, orang yang pintar di jalanan berani melawan ketakutan yang biasanya membisikan teror, “bagaimana nanti kalau gagal,” atau “jangan-jangan nanti bangkrut,” dan lain-lain. Orang jalanan menjadi pintar dan bisa karena melakukan atau menjalankan secara langsung. Mengalami benturan masalah, menghadapi problematika riil yang harus dicari jalan keluarnya secara praktis. Itu yang membuat mereka bisa.

Itu sebabnya Bob sering menyatakan, kalau anak kuliahan dengan IPK di atas 3, itu tanda calon karyawan, bukan calon bos. Teori perkuliahan saja tidak cukup membuat seseorang sukses dan menjadi bos. Diperlukan ilmu jalanan, praktek langsung, bergulat dengan medan kenyataan. Itu yang menempa seseorang menjadi bisa, dan pada akhirnya bisa sukses dalam usaha.

Ternyata Bob Sadino memang memulai bisnis dari jalanan, bukan dari sekolahan. Dia memulai dengan berjualan telur, daging ayam, sayur-mayur dan buah-buahan. Dia tidak menghadapi segala masalah dengan senjata teori, melainkan dengan praktek langsung. Bob juga mempunyai cara unik dalam melakukan pengawasan, yaitu dengan cara ikut bekerja bersama para karyawannya. Bahkan Bob betah seharian ikut melakukan pekerjaan karyawan.

Bob tidak segan bergaul dengan para karyawan mulai dari top level sampai pegawai paling rendah seperti tukang sapu atau office boy. Ia memosisikan diri seperti rekan kerja, teman, sahabat atau bahkan keluarga. Dengan cara seperti ini, semua karyawan menjadi nyaman dengan dirinya, dan pada saat yang sama ia bisa mengawasi serta mengontrol pekerjaan karyawan.

Bagaimana Menjadi Murabbi Goblok?

Sangat tidak tepat istilah ini, tidak perlu dikembangkan lagi. Intinya kita perlu menjadi murabbi yang berpikir simpel, langsung praktek, tidak takut gagal, tidak takut salah, belajar dari kesalahan membina, mau akrab menemani mutarabi, serta menyampaikan hal yang bisa disampaikan.

1. Berpikir simpel

Jangan terlalu rumit memandang proses tarbiyah. Merasa belum menguasai manhaj, merasa belum menguasai ilmu alat, merasa belum menguasai mawad tarbiyah, sehingga akhirnya tidak membina. Itu karena terlalu rumit cara memandang tarbiyah. Simpel saja, tarbiyah itu aktivitas bersama antara murabbi dengan mutarabbi untuk menghantarkan mereka menuju muwashafat tarbiyahnya.

Tanpa metode yang rumit, tanpa materi yang sulit, bahkan hanya dengan mengobrol santai saja, tarbiyah bisa berjalan. Lakukan saja, mulai saja, membina saja. Membina itu simpel kok...

2. Langsung praktek

Tidak perlu berkutat dengan banyaknya teori. “Saya belum mengerti bagaimana cara mengevaluasi mutarabi”, itu tidak masalah. Nanti saja dipelajari. Sekarang langsung praktek, langsung membina saja. Tidak perlu IP tinggi dalam tarbiyah, cukup kemauan belajar dan semangat melakukan pembinaan.

Jika menunggu sampai menguasai semua hal dalam “teori tarbiyah”, maka akan membuat tidak segera memulai praktek membina. Akhirnya hanya menjadi peserta daurah murabbi abadi, menguasai banyak teori, namun tidak mau praktek. Sudahlah, langsung praktek saja dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang pasti masih kita miliki.

3. Tidak takut gagal membina

Gagal membina itu wajar saja. Banyak murabbi pernah mengalami. Kita tidak perlu takut gagal, takut membubarkan kelompok binaan, takut gagal menjadikan mutarabi menjadi kader yang handal. Sudahlah, mulai saja, lakukan saja, tidak perlu takut gagal atau bubar di tengah jalan.

Ketakutan membina justru menjadi momok yang membuat tidak melakukan pembinaan. Padahal ketakutan itu justru akan terjawab dengan praktek melakukan pembinaan secara langsung. Kalau tidak praktek, bagaimana bisa mengetahui akan gagal atau berhasil?

4. Belajar dari kegagalan membina

Bahkan ketika kita gagal membina, atau binaan bubar di tengah jalan, itu bisa memberi pelajaran penting tentang faktor-faktor kegagalan dan keberhasilan tarbiyah. Bukan mendapatkan ilmu lewat teori kuliah, tetapi mendapatkan ilmu dari praktek langsung di lapangan. Gagal pun ada pelajaran yang penting bagi pembentukan karakter murabbi dan kemampuan membina.

Lakukan pembinaan, jika bubar, lakukan rekrutmen lagi, lalu dibina lagi dalam satu kelompok pembinaan. Jika kelompok kedua ini bubar lagi, rekrut kelompok berikutnya dan langsung dibina lagi, begitu seterusnya. Jangan takut gagal membina.

5. Tidak takut salah

Setelah mengerti sangat banyak hal renik dari “teori tarbiyah”, kadang memunculkan ketakutan jangan-jangan tidak bisa sesuai dengan teori. Jangan-jangan cara saya membina tidak standar sebagaimana tuntutan manhaj. Ketakutan itu justru memberatkan diri sendiri. Setelah mengikuti daurah murabbi yang menjelaskan “teori tarbiyah”, segera praktek dan menjalankan program pembinaan. Tidak perlu takut salah, takut tidak sesuai teori, dan seterusnya.

Tarbiyah itu proses, bukan sekali jadi. Maka yang penting mulai saja. Jika ada yang kurang dalam senuthannya, bisa dipoles sembari proses berjalan.

6. Mau akrab menemani mutarabi

Mutarabi kita sekaligus bisa menjadi pengingat dan motivasi bagi kita. Lakukan pendekatan dari hati ke hati, mau duduk akrab dengan mereka, tidak berjarak, mengobrol, bercanda, dan lain sebagainya. Itu akan membuat kedekatan murabbi dengan mutarabbi semakin baik, dan akan membuat proses tarbiyah semakin efektif.

Berakrab dengan mutarabi juga sekaligus kontrol terhadap kondisi mereka. Murabbi bisa mengetahui situasi pemikiran dan jiwa mereka dalam berinteraksi dengan tarbiyah selama ini.

7. Sampaikan apa yang bisa disampaikan

Nanti sore jadwal mengisi halaqah tarbawiyah? Jangan stres. Sampaikan saja apa yang bisa anda sampaikan. Mungkin berupa kisah, cerita, atau mengulas berita, atau menyampaikan satu madah tarrbiyah, atau memberikan tugas mutarabi untuk membaca buku tertentu dan menyampaikannya di forum, atau apa saja yang anda bisa. Jangan terbebani dengan pikiran “tidak punya sesuatu untuk disampaikan”.

Anda bisa menyampaikan apa saja, termasuk cerita kejadian yang anda alami bersama keluarga. Itu bisa memancing diskusi menarik untuk diambil pelajaran pentingnya.

Sudah siap? Harus siap. Semua harus membina, walau hanya satu kelompok binaan. Masih ada yang belum membina? Mungkin anda terlalu pandai.